Monday, February 27, 2012

TERJEMAH ASWAJA(ahlus sunah wal jama'ah) Bag 3

                                                                                                       PASAL
SIKAP EKSTRA HATI-HATI DIDALAM MENGAMBIL AGAMA DAN KEILMUAN, JUGA SIKAP ANTISIPATIF TERHADAP FITNAH YANG DIMUNCULKAN OLEH PARA AHLI BID’AH, ORANG-ORANG MUNAFIQ DAN PARA PEMIMPIN YANG MENJERUMUSKAN.




Wajib bersikap ekstra hati-hati didalam mencari dan menghasilkan keilmuan, maka janganlah anda mencari dan mendapatkannya dari selain ahli ilmu.
روى ابن عساكر وعن الامام مالك رضى الله عنـه: لاتحمل العلم عن اهل البدع ولا تحمله عمن لايعرف بالطلب ,ولاعمن يكذب فى حديث الناس وان كان لايكــذب فى حديث رسول الله  صلى  الله  عليه  وسلّم 
Diriwayatkan dari Imam Ibnu Asakir dari Imam Malik Ra :     “Janganlah engkau menerima ilmu dari ahli bidah, jangan pula anda mencari dan menerima keilmuan (agama) dari seseorang yang tidak diketahui kepada siapa ia belajar, dan tidaklah pula diperkenankan menerimanya dari seseorang yang melakukan kebohongan publik didalam menceritakan manusia, walaupun ia diyakini tidak akan melakukan kebohongan terhadap hadits Rasulullah SAW”.
    وروى ابن سيرين رحمه الله :                                        هذا العلم دين, فانظروا  عمّن  تأخذون  دينكم                                                                  
Diriwayatkan lagi dari Imam Ibnu Sirrin Ra : “Ilmu ini adalah agama ;maka selektiflah kalian semua dari siapa kalian mengambil agama.” وروى  الديلمى عن ابى عمررضى  الله  عنهما  مرفوعا  : العلم  ديـن , والصّلاة  ديـن , فانظروا عمن تأخــــذون هذا  العلم , وكيف  تصلون  هذه فإنكم  تسألون  يوم  القيامة , فلا ترووه  الا عمن  تحققت  أهلّيــته بأن  يكون  من العدول الثقــات المتّقـــين                                                              

Diriwayatkan oleh Imam Al - Dailami dari Ibnu Umar ra. dalam sebuah periwayatan yang marfu’ : "Ilmu adalah agama dan shalat adalah agama. Maka bersikap telitilah kalian semua didalam  mengambil/menerima ilmu itu. Bagaimana anda melakukan shalat seperti ini? Sesungguhnya kalian semua  akan ditanya nanti dihari kiamat, maka janganlah anda meriwayatkan keilmuan itu kecuali dari seseorang yang benar-benar anda meyakini keahliannya yakni ia yang memiliki sifat-sifat keadilan, dapat dipercaya dan muttaqien".
وروى مسلم  فى صحيــحه أن رسول  الله  صلى الله عليه وسلم قال : سيكون فى اخر أمتى  أناس  يحـدثوكم  ما لم تسمعوا  انتم  ولاابآئكم  فاياكم  واياهم      
Imam muslim meriwayatkan didalam kitab shahih-nya bahwa Rasulullah SAW bersabda :“Akan ditemukan dizaman akhir dari umatku sekelompok manusia yang senantiasa menceritakan kepada kalian segala sesuatu yang mereka tidak pernah mendengarkannya, kamu dan juga orang-orang tua kalian, maka jagalah diri kalian semua, dan waspadailah mereka”.
وفى صحيح مسلم أيضا أن  أبا هر يرة رضى الله  عنه يقول : قال رسول  الله  صلى  الله  عليه  وسلم  يكون  فى  أخر  الزمان  دجالون  كذبون  يأتونكم  من  الاحاديث  بما لم  تسـمعوا انتم  ولااباؤكم  فإياكم  واياهم  لايضلونكم  ولايفتنـونكم      

Di dalam kitab Shahih Muslim juga disebutkan, sesungguhnya Abu Hurairah RA berkata : Rasulillah Saw bersabda : "Akan didapati diakhir zaman nanti Dajjal-dajjal yang menebar kebohongan-kebohongan, mereka datang membawa berita-berita yang, kalian  dan orang tua kalian semua tidak pernahmendengarkannya, jagalah diri kalian dan waspadailah mereka, jangan sampai mereka menjerumuskan kalian semua, dan jangan pula kalian ter fitnah".
وفى صحيح مسلم أيضا عن عمر بن العاص رضى الله  عنه  قال: إن فى البحرسياطين مسجونة  اوثقها  سليمان  ابن  داود , يوشك ان تخرج فتقراء على الناس قرأنا 

Juga di dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin al – ‘Ash  Ra.  beliau berkata : “Sungguh di dalam lautan terdapat syetan-syetan yang terpenjarakan dan yang membelenggunya adalah Nabi Sulaiman bin Dawud, hampir saja mereka dapat keluar, dan mereka  hendak membacakan Al-Qur'an kepada seluruh manusia”.
Imam Al – Nawawi  mengomentari hadits ini dengan pernyataannya; bahwa makna (syetan-syetan) yang dikehendaki oleh hadist diatas adalah mereka yang membacakan sesuatu yang sebenarnya bukanlah Al-Qur'an, tetapi ia mengatakannya bahwa  ini adalah Al-Qur'an, mereka mengecohkan manusia pada umumnya agar mereka menganggap aneh terhadap Al-Qur'an”.
وروى الطبرانى عن  ابن  الدرداء  رضى  الله  عنه :  إن  أخوف  ما  اخاف على أمتى الأئمة المضلون . وروى الامام  أحمد عن عمر رضى الله عنه : ان اخوف ما اخاف على أمتى كل منافق  عليم  اللسان       
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abi Darda’i RA, “Sesungguhnya yang paling menghawatirkan atas umatku adalah prilaku  para pemimpin yang sesat”, Imam Ahmad dalam riwayatnya dari sahabat Umar Ra. Menyatakan : “Sesungguhnya kekhawatiran terbesarku atas umat–ku adalah  orang munafik yang kepandaiannya hanya di lisan saja”.
Imam Al – Munawwir  Ra. menginterpretasikan/ menafsiri hadits ini dengan pernyataannya : “Banyak sekali orang yang pandai beretorika tetapi bodoh hati dan perbuatannya, ia mencari ilmu dengan orientasi mencari kerja dari sanalah ia akan mencari makan, dan mengorbankan kesombongan demi meraih kemulyaan. Ia mengajak manusia semesta alam menuju Tuhannya, tetapi ia sendiri lari dari pada-Nya”.
وعن زياد بن حدير رحمه  الله  تعالى قال : قال  لى عمر ابن  الخطاب  رضى لله عنه : هل  تعرف  مايهدم  الإسلام ؟  قلت  لا , قال  يهدمه  زلة العالم ,  وجدال  المنافق  باالكـتاب ,  وحكـم  الأئمة  المضـلين  
Dari Ziyad bin Jabir RA ia berkata ; telah berkata kepadaku Sayyidina Umar bin Khattab RA : "Tahukah kamu apakah yang dapat merobohkan Islam ?" Aku berkata tidak Ya Amirul Mukminin; Berkatalah beliau : "Yang akan merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang awam (sebab mereka tidak bersikap hati-hati), orang munafiq yang menperdebatkan Al – Kitab, dan supermasi hukum yang dikendalikan oleh para pemimpin yang menyimpang".
PASAL :
BEBERAPA HADITS DAN QOULU AL–SHOHABAH YANG MENJELASKAN TENTANG HILANGNYA ILMU DAN TUMBUHNYA KEBODOHAN, SERTA PERINGATAN NABI MUHAMMAD SAW DAN PEMBERITAHUANNYA BAHWA ZAMAN AKHIR ADALAH ERA TERBURUK. DIMANA UMAT BELIAU AKAN MENGIKUTI MODEL – MODEL PEMBAHARUAN, BID’AH DAN HAWA NAFSU. AGAMA HANYA AKAN DIANUTOLEH MANUSIA-MANUSIA  TERTENTU SAJA.


Imam Ibnu Hajar al – ‘Asqolani Rahimahu Allohu Ta’ala didalam kitab Fathul al – Baari berkata : Allah akan mencabut/ mewafatkan ulama dan besertaan dengan itu pula Allah melenyapkan ilmu. Pada saat itulah kaum intelektual muda belia saling timpang tindih, tunggang langgang dengan segala kontradiksinya, situasi ini ibarat onta menerjang dan melompati onta-onta yang lain sehigga orang-orang tua yang melahirkan mereka dianggap lemah tak berdaya.
Sebuah riwayat diceritakan oleh Abu Umamah RA : ketika berlangsung haji wada’ Rasulullah Saw berdiri di atas ontanya yang coklat seraya berpidato menyampaikan  amanatnya : 
ياايهاالناس خذوا من العلم قبل أن يقبض وقبل أن يرفع من الأرض ,  ألا إن ذهاب العلم ذهاب حملته  فسأله أعر ابى فقال : يارسول الله  كيف يرفع العلم منا , وبين اظهرنا المصاحـف وقد تعلمنا مافيها  وعلمناها أبناءنا ونساءنا وخدمنا ؟  فرفع اليه  رأسه وهو مغضب ,  فقال : وهذه اليهود والنصارى بين أظهرهم المصاحف ولم يتعلق منها  بحرف فيما جآءهم به أنبياؤهم    

“Wahai segenap manusia segeralah kau gengam ilmu sebelum ia dicabut dan sebelum ia lenyap dari permukaan bumi, Ingatlah bahwa sesungguhnya hilangnya ilmu itu bersamaan dengan kewafatan pembawanya. Seorang Baduwi lantas bertanya kepada Nabi, Ya Rasulullah, bagaimana ilmu itu dilenyapkan dari kita, sementara dihadapan kita terbentang mushaf-mushaf, sungguh kita telah mempelajari apa yang ada didalamnya, dan kami mengajarkannya kepada anak-anak kita, istri-istri kita dan pembantu-pembantu kita ? Rasulillah memfokuskan pandangannya kepada orang ‘Araby itu, beliau tampak marah dan berkata : Kaum Yahudi dan Nasrani ini dihadapannya juga terpampang kitab-kitab mereka tetapi mereka sedikitpun tidak berpegang teguh kepada apa-apa yang telah diajarkan oleh para Nabinya kepada mereka”. 
Imam Ibnu Mas’ud RA berkata : 
لايز ال الناس  مشتملين  خيرما  أتاهم  العلم  من  اصحاب  محمد  صلى  الله  عليه  وسلم  وأكابرهم ,  فاذا  أتاهم  العلم  من  قِبل  أصاغرهم وتفرقت  اهواؤهم  هلكوا      
“Tidaklah akan sirna eksistensi kemanusiaan selama ia masih berselimutkan dengan segala kebaikan (kemurnian) ilmu yang datang kepada mereka dari para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para pembesarnya. Tetapi ketika ilmu yang diterima oleh mereka itu bersumber dari orang-orang rendahan diantara mereka dengan segala kepentingan hawa nafsu yang berbeda maka rusaklah manusia seluruhnya”.
Imam Bukhari dalam kitab shohinya meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah RA : 

لاتقوم الساعة  حتى تأ خذ أمتى بأ خذ القرون قبلها شبرا بشبر وذراعا  بذراع, فقيل  يا رسول  الله  كفارس  والر وم , فقال  ومن الناس إلاهم  

“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat sehingga umatku sedikit demi sedikit menjauh dalam mengambil tutuntunan hidup sebagaimana yang diambil oleh generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, lantas diucapkan Wahai Rasulillah ! sedemikian itu adalah sebagaimana yang terjadi pada kaum Persia dan Romawi ? Rasulillah menjawab : “Siapalagi manusia itu ? kalau bukan mereka ( kaum Persia dan Romawi) “!
Dari Said al – Khudri RA dari Nabi SAW beliau bersabda : 

لتتبعن  سنن  من  كان  قبلكم  شبرا شبرا  وذراعا  ذراعا  حتى لودخلوا  فى  حجر  ضب  تتبعوهم ,  قلنا  يارسول  الله  اليهود  والنصارى  ؟  قال  فمن  ؟     
“Sungguh kalian semua pada saatnya nanti  akan mengikuti tuntunan-tuntunan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, sehingga kalau saja mereka masuk ke dalam liang biawak, mereka tetap akan mengikutinya. Kemudian dikatakan : “Wahai Rasulillah, merekakah orang-orang Yahudi dan Nasrani? Rasul menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka”
Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud RA dari Rasulillah Saw : 
إن اول هذه الأمة  خيارهم, واخرها شرارهم مختلفين متفرقين , فمن  كان يؤمن بالله واليوم الاخر فلتأته ميتته وهو يأتى الى الناس ما يحب   أن يؤتى إليه    

“Sesungguhnya generasi pertama dari ummatku ini adalah sebaik-baiknya generasi, dan periode akhirnya adalah seburuk-buruknya generasi umatku, mereka semua berselisih dan berpecah belah. Barang siapa mengimani Allah dan hari akhir maka segeralah menjemput kematiannya, sementara itu ia datang menghampiri manusia menyampaikan sesuatu yang ia menyenanginya bila hal itu didatangkan kepadanya”.

Sebuah kisah diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah RA suatu ketika ia mendengar ayahnya bercerita : 

لم يز ل أمر بنى اسرائيل مستقيما حتى حدث فيهم المولدوا أبناء سبايا الأمم,  فاحدثوا  فيهم  القول  بالرأى  وأضلوا بنى  اسرائيل, قال وكان أبى يقول السنن السنن , فإن السنن قوام الدين     

“Tidaklah pernah sirna perkara yang ada ditengah-tengah kaum Bani Israil, dan itu tetap kokoh dipegangi sehingga datang ditengah-tengah mereka anak-anak yang terlahirkan dari para tawanan umat mereka. Generasi baru itu melakukan pembaharuan ditengah-tengah mereka dengan mengemukakan/ menyampaikan pendapat mereka sendiri. Di saat itulah mereka menjerumuskan kaum Bani Israil, Hisyam berkata : Ayahku lantas mewasiatkan:“tetaplah kalian memegangi tuntunan, teguhkanlah dirimu untuk tetap berpegang teguh pada al- Sunnah, karena tuntunan itu merupakan tiang agama”.
Pada sebuah riwayat yang lain diceritakan dari Ibnu Wahbin dari Ibnu Shihab Al – Zuhri RA ia berkata : 

ان اليهود  والنصارى  إنما  انسلخوا  من  العلم  الذى  كان  بأيديهم  حين  استقلوا  الرأى  وأخذوا  فيه    

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani mulai melepaskan diri dari keilmuan mereka yang selama ini ada pada genggaman mereka  ,yakni pada saat mereka semua bebas sebebas-bebasnya untuk melontarkan pendapat-pendapat mereka sendiri dan menjadikannya sebagai pedoman hidupnya”.

وروى البخارى فى صحيحه عن عروة رضى الله عنه قال  : حح علينا  عبد الله بن عمرو رضي الله عنه  سمعـت النبى صلى الله عليه وسلم  يقول:  إنّ الله لاينزع العلم بعد أن اعطاهموه إنتزاعا , ولكنّ ينتزعه  منهم مع قبض العلماء بعلمهم فيبقى ناس جهّال يستفتون , فيفتون  برأيهم فيَضلون ويُضلّون      

Imam Bukhori di dalam kitab shohihnya meriwayatkan sebuah hadits dari Urwah Ra. Ia berkata: Abdullah bin Umar Ra. menunaikan   haji bersama kita, lantas aku mendengar Nabi Muhammad SAW. Bersabda : “Sesungguhnya Allah swt. tidak akan mencabut ilmu, setelah ilmu itu ia berikan kepada suatu kaum dari dada mereka secara mendadak, tetapi Allah mencabutnya besertaan dengan kewafatan para ulama sebaagi pemegangnya, sehingga yang tersisa tinggallah manusia-manusia bodoh, kaumnya meminta fatwa pada mereka, dan merekapun menyampaikan fatwa atas dasar pendapatnya sendiri, sehingga mereka sendiri tersesat dan menyesatkan kaumnya, kesesatanpun merajalela.”     
Hadits ini lantas aku ceritakan kepada Dewi Aisyah Ra, istri Rasululah saw. Kemudian ketika Sayyidina Abdullah bin Umar  melaksanakan ibadah haji lagi pada tahun berikutnya. Dewi A’iyah menghampiriku : “Wahai putra saudara perempuanku, pergilah dan temuilah Abdullah dan mintalah pengukuhan sebuah hadits yang telah ia sampaikan kepadaku.” Maka sayapun datang dan menanyakannya. Kemudian Abdullah bin Umar menyampaikan sebuah hadits sebagaimana yang pernah ia tuturkan. Setibanya dari sana,  saya datang kepada Dewi Aisyah untuk menginformasikan hasil pertemuanku dengan Abdullah bin Umar. Dewi Aisyah Ra. menyatakan pengukuhannya : “Demi Allah, sungguh Abdullah bin Umar menghafal hadits tersebut.”

Di dalam kitab Fathu al – Bahri  juga diriwayatkan sebuah hadits dari Masruq dari Ibnu Mas’ud Ra. ia berkata :

لايأتى عليكم زمان الا وهو أشر مما  كان  قبله , إما أنى لاأعين أميرا  خيرا من أمير ولا عاما خيرا من عام , ولكن علماؤكم وفقهاؤكم  يذهبون ثم لا تجدون منهم خلفا , ثم يجئ قوم يفتون فى الامور   برأيهم فيثلمون الاسلام  ويهدمونه .     

“Tidak akan datang sebuah zaman kepada kalian semua, kecuali zaman itu lebih buruk dari era sebelumnya, ingatlah sesungguhnya aku tidak akan menentukan seorang pemimpin yang lebih baik dari pemimpin yang lain juga tidak pada sebuah masyarakat yang lebih baik dari masyarakat yang lain. Tetapi ulama-ulama dan ahli fiqih kalian telah wafat meninggalkan kita, hingga tidak didapati lagi pengganti mereka. Kemudian datanglah sekelompok kaum yang menyampaikan fatwa tanpa sadar tentang suatu masalah menurut pendapatnya sendiri, mereka merusak Islam dan merobohkan sendi-sendi agama”.
PASAL
TENTANG DOSANYA SESEORANG YANG MENGAJAK
PADA JALAN YANG SESAT DAN PERBUATAN YANG BURUK


Allah SWT. berfirman :
ليحملوا اوزارهم كاملة  يوم القيامة  ومن اوزار الذين يضلّونهم      
“(Ucapan dan perbuatan mereka)-lah yang menyebabkan mereka harus  memikul dosa-dosa mereka  dengan sepenuh-penuhnya pada hari Qiamat, dan juga dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (Al-Nahl : 25)
 Imam Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Ra. Ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :

من دعا الى هدى كان له  من الأجر مثل  أجور من  تبعه  لاينقص  ذلك من أجورهم  شيئا , ومن دعا  الى ضلالة  كان عليه  من الإثم  مثل أثام من تبعــه لاينقـص  ذلك من أثامـهم  شيئا      

“Barang siapa mengajak menuju hidayah Tuhan maka baginya pahala sebagaimana pahalanya orang-orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun berkurang. Namun senaliknya barang siapa mengajak orang lain pada kesesatan jalan Tuhan maka baginya dosa sebagaimana dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka.”
Dalam sebuah riwayat Imam Muslim menceritakan dari Abdur Rahman bin Hilal dari Jarir bin Abdullah al–Bakhliy Ra. dalam sebuah haditsnya yang cukup panjang ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :
من سنّ فى الإسلام سنة حسنة فله اجرها وأجر من عمل بها بعده  من غير ان ينقص من أجورهم شيئا , ومن سن فى الإسلام  سنة  سيّئة  كان عليه  وزرها  ووزر من عمل بها بعده من  غير أن ينقص  من اوزارهم شيئا.     

“Barang siapa merintis sebuah tuntunan yang baik di dalam Islam, maka baginya mendapatkan pahala kebaikan tersebut dan juga pahalanya orang-orang setelahnya yang mengamalkan tuntutan kebaikan tersebut, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Dan barang siapa membuat tuntutan pada jalan keburukan dalam agama Islam, maka dilimpahkanlah dosa baginya, dan iapun harus mennaggung dosa-dosa orang-orang setelahnya yang mengikuti jalan keburukan tersebut tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka”.
Imam Mujahid Ra. ketika menafsiri ayat yang dituturkan di muka menyebutkan : “Mereka (yang berkata dan berbuat keburukan) harus menanggung, dosa-dosa mereka sendiri dan dosa orang-orang yang mengikuti dan mentaati mereka tanpa ada keringanan pembebasan sedikitpun dari orang-orang yang mengikuti mereka”.
Imam Al-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Amr bin ‘Auf Ra. Rasulullah bersabda :  

من أحي سنة من سنتى قد أميتت بعدى كان له من الأجر مثل أجرمن عمل بها من غير أن ينقص ذلك من أجورهم شيئا , ومن إبتدع  بدعة  ضلالة لاترضى الله ورسوله  كان عليه  مثل أثام من عمل بها  لاينقص ذلك من اوزار الناس شيئا.       
“Barang siapa menghidupkan tuntunan dari sunnahku yang telah mati, setelah kewafatanku, maka baginya mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang-orang yang mengamalkan tuntunan kebaikan itu tanpa berkurang sedikitpun dari pahala-pahala mereka, dan barang siapa menciptakan bid’ah atau tuntunan menyesatkan yang tidak di ridloi oleh Allah swt. dan Rasul – Nya, maka dilimpahkan padanya dosa dan dosanya orang-orang yang mengamalkan perbuatan bid’ah itu, tanpa berkurang sedikitpun dari dosa-dosa mereka”.
Sebuah riwayat juga menceritakan dari Imam Thabrani dan shahabat Abi Hurairoh Ra. Ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :
         المتمسك  بسنتى  عند  فساد  أمّتى  له  أجر  مائة  شهيد     

“Seseorang yang eksis berpegang teguh dalam menjalankan sunnahku pada saat carut marutnya ummatku, maka baginya pahala sebagaimana pahalanya 100 orang yang mati syahid.”
PASAL
PERPECAHAN UMMAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW.
MENJADI 32 SEKTE DAN PENJELASAN TENTANG DASAR-DASAR KESESATAN YANG TERJADI  PADA  GOLONGAN-GOLONGAN TERSEBUT, JUGA TENTANG  GOLONGAN YANG SELAMAT YAKNI
“AHLU SUNNAH WAL JAMAAH”

Imam Abu Dawud, Al-Turmudzi dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : 
إفترقت اليهود على احدى وسبعين  فرقة , وتفرقت النصارى على  اثنين وسبعين فرقة , وتفرقت أمتى على ثلاث وسبعين فرقة ,  كلها  فى النار الا واحدة , قالوا:  ومن هم يا رسولالله ؟  قال : هم الذين  على الذى أنا عليه واصحابى .   
“Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi 71 golongan, dan kaum Nasrani terkotak-kotak menjadi 72 kelompok, dan ummatkupun akan terpecah belah menjadi 32 sekte, semua golongan tersebut masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja. Para sahabat tercengang dan lantas bertanya : “Siapa (satu golongan yang selamat itu) Yaa Rasulullah Saw. ?” Rasulullah Saw. Menjawab : “Golongan yang selamat itu adalah kelompok ahli sunnah wal jama’ah mereka adalah orang-orang yang eksis dan tetap punya komitmen dalam mengikutiku dan para sahabatku”. 
Imam Al – Syihabu  al – Din  al – Khofaji  Ra. di dalam kitabnya Nasimu al – Riyadz  menyebutkan : Golongan yang selamat itu adalah kelompok “Ahli al – Sunnah  Wa  al – Jamaah” .
Dalam Hasyiyah (catatan pinggir )-nya  Imam al – Syanwani  terhadap kitab ringkasan (mukhtasor)-nya Imam Ibnu Jamroh dinyatakan bahwa : Kelompok yang selamat itu adalah mereka yang berafiliasi kepada Imam Abu al – Hasan  al – Asy’ary   dan jamaahnya yaitu “Ahli al – Sunnah ” dan “Aimatu al – Ulama ”.
Karena Allah swt. telah menjadikan “Jama’ah” atau kelompok ini sebagai hujjah / argumentasi bagi mahluknya, dan kepada Imam al – Asy’ari dan jamaahnyalah, masyarakat memiliki  kecondongan dalam mengembalikan berbagai permasalahan agama mereka. Kelompok inilah yang pada hakekatnya dimaksudkan oleh Rasulullah saw. Dalam sabdanya : 
لا  تجــتمع  أمـــتي  على  ضــــلا لة

“Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan mengumpulkan ummatku untuk bersekongkol, sepakat dalam berbuat kesesatan".
Imam Abu Mansyur bin Thohir al – Tamimi  dalam menjelaskan hadits ini mengemukakan : Sungguh orang – orang  yang memiliki perbedaan – perbedaan  pendapat itu mengetahui bahwa Rasul Allah swt. tidak bermaksud mengidentifisir kelompok yang tercela itu ditujukan kepada golongan yang berselisih dalam menyikapi masalah-masalah fiqih yang bersifat Furu’iyyah (cabangan) yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Tetapi mereka menyadari bahwa yang dikehendaki oleh Nabi adalah : mencela seseorang yang menentang dan keluar dari Ahlu al – Haq  di dalam permasalahan dasar-dasar Tauhid / Teologi, di dalam menetapkan perbuatan baik dan buruk, di dalam memberikan batasan-batasan/syarat-syarat kenabian dan kerasulan, dan juga di dalam masalah bagaimana mencintai para sahabat, dan hal apa saja yang berkaitan dengan masalah – masalah  tersebut di atas. Karena mereka yang berselisih dan berbeda pendapat dalam masalah – masalah  ini telah saling mengkafirkan satu sama lainnya.Berbeda dengan ikhtilaf yang terjadi pada kelompok pertama. Mereka berbeda pendapat dalam masalah – masalah  fiqih tanpa mengkafirkan yang lain dan tanpa menfasiq-kan kelompok lain yang berbeda pendapat. Oleh karena itulah interpretasi yang benar adalah disandarkan pada perbedaan – perbedaan  pendapat dalam masalah-masalah aqidah, bukan pada masalah-masalah furu’iyyah dalam fiqih.
Pada masa akhir kepemimpinan sahabat, terjadi pergolakan yang dipacu oleh perselisihan yang terjadi di dalam tubuh golongan Qodariyyah antara Ma’bat Al-Juhain dan para pengikutnya, dalam persengketaan ini sejumlah sahabat muta’akhirin mengambil posisi independen, diantara mereka adalah : Sahabat Abdullah bin Umar, Sahabat Jabir, Sahabat Anas bin Malik dan para pengikutnya, Radliyallahu ‘Anhum.
Setelah itu, bermunculan perbedaan-perbedaan pendapat, dan sedikit demi sedikit meruncing dan terjadi ketegangan hingga sempurnalah perpecahan diantara ummat Islam itu menjadi 72 golongan yang sesat, dan golongan yang ke 73 adalah “Ahli al – Sunnah  wa al – Jamaah” sebagai kelompok yang mendapat jaminan keselamatan dari Rasulullah saw.
Bila dikatakan apakah sekte-sekte itu kesemuanya diketahui dan populer di tengah – tengah  kita ?, Maka jawaban yang dapat dikemukakan adalah : Kita mengetahui perpecahan sekte – sekte  tersebut secara umum dan dasar – dasar  yang dianut oleh masing – masing golongan tersebut, dan kita mengetahui juga bahwa golongan – golongan  itu juga terbagi-bagi lagi dalam beberapa kelompok, walaupun secara mendetil kita tidak mengetahui nama dari masing – masing  firqoh itu sekaligus  madzhab yang mereka anut masing – masing.
Diantara beberapa sekte yang memiliki dasar-dasar teologi antara lain : golongan Haruriyah, Qodariyah, Jahmiyah, Murji’ah, Rofidloh dan Jabariyah berdasarkan penelitian sebagian dari para intelektual ahli ilmu, Rahimakumullah Ta’alaa ‘Anhu menegaskan bahwa konsepsi-konsepsi dasar teologis yang dianut oleh enam sekte tersebut di muka adalah golongan-golongan yang di klaim sebagai golongan yang sesat. Masing-masing dari 6 kelompok sekterianisme di muka terpecah belah menjadi 12 firqoh hingga terhitunglah jumlah komunalnya menjadi 72 firqoh.
Imam Ibnu Ruslan Ra. berkata : Sebuah pendapat mengemukakan bahwa secara rinci golongan-golongan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi; 20 golongan. Diantara mereka termasuk golongan Rowafid, 20 sekte yang lain masuk dalam golongan Khowarij, 20 sekte berikutnya muncul dari firqoh Qodariyah. 7 golongan juga muncul dari sekte Murji’ah dan satu firqoh lagi adalah sekte Najjariyah. Masing-masing itupun tersekat-sekat kembali menjadi lebih dari 10 golongan, tetapi perpecahan kelompok-kelompok itu hanya dihitung sebagai satu firqoh saja misalnya firqoh Hururiyah saja, atau satu firqoh Jahmiyah, dan 3 firqoh dari golongan Karromiyah, dari rincian inilah secara keseluruhan terhitung jumlah sekte yang muncul adalah 72 golongan.  
PASAL
TENTANG TANDA-TANDA DEKATNYA HARI QIAMAT


Banyak sekali tanda-tanda akan terjadinya hari qiamat, antara lain tidak adanya orang yang bersedia menolong dan mengamalkan agama. Tentang tanda-tanda akan terjadinya hari qiamat ini beberapa hadits Nabi menyebutkan antara lain : Rasulillah Muhammad saw. Bersabda :
(رواه  الترمذى  عن  أنس بن  مالك  رضى  الله  عنه  )يأتى  على  الناس  زمان  الصابر  على  دينه  كالقابض  على  الجمر 
“Akan datang suatu zaman atas manusia seluruh alam, dimana orang yang bersabar dalam mempertahankan agama itu bagaikan orang yang menggenggam bara api.” (HR. Al – Turmudzi  dari Anas bin Malik Ra.)
يكون  فى  أخر  الزمان  عبّاد  جهال  وقر اء  فسّقة  ( رواه  ابو  نعيم فى الحلية  والحاكم فى  المستدرك  عن أنس  رضى  الله  عنه  )

“Pada zaman akhir akan dijumpai banyak hamba-hamba Allah yang bodoh dan orang-orang yang ahli membaca Al-Qur'an tetapi berperilaku fasiq.” (HR. Imam Abu Nu’aim di dalam kitab Hilyahnya, dan Imam al – hakim   di dalam kitab Mustadroknya, juga dari sahabat Anas bin Malik Ra.)
لايقوم  الساعة  حتّى  يتباهى الناس فى المسجد  ( رواه امام احمد فى منذه وابو داواد فى سننه عن أنس رضى الله  عنه )

“Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga manusia bermegah-megahan dalam menbangun masjid.” (HR. Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya, dan Imam Abu Dawud di dalam kitab sunnahnya dari sahabat Anas Ra.)
Termasuk tanda-tanda akan tibanya hari Qiamat adalah :

قطيعه  الرحم ,  وتـخــوين الامين , وائـتمان  الخائن  
( رواه الطبرانى عن انس  ابن مالك رضى  الله  عنه )

“Terputusnya tali silaturrahim (persaudaraan), orang yang dapat dipercaya dianggap menyimpang, dan orang yang menyimpang dan berdusta justeru dipercaya” (HR.Al –Thabrani  dari sahabat Anas bin Malik RA)
ومنها انتفاخ الأهلة ,وان يرى الهلال قبلا بفتحتين  اى سلعة مايطلع فيقال لليلـتين ( رواه الطبرانى عن ابن مسعود رضى  الله  عنه )    
“Naiknya kwalifikasi tanggal, sehingga pada suatu waktu peninggalan itu dapat muncul dan diselesaikan pada awal mulanya, tetapi pada saat yang lain tidak disaksikan lagi, sehingga dinyatakan bahwa tanggal itu adalah merupakan sebuah tanggal untuk dua malam”. 
(HR. Al – Thabrani  dari sahabat Anas bin Malik RA)
ومنها يذهب الصالحون الأول, وتبقى حشالة كحثالة الشعير اوالتمر 
( رواه  إمام  أحمد  والبخارى )
“Lenyapnya orang – orang  yang shaleh  dari satu generasi ke generasi  selanjutnya, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang bodoh ibarat sampah gandum atau ampasnya kurma”
(HR. Al – Thabrani  dari sahabat Ibnu Mas’ud RA)
ومنها  لاتقوم  الساعة  حتى يكون  الزهد  رواية  والورع  تصنّعا    
(رواه ابو نعيم فىالحلية)
“Tidak akan terjadi hari Qiamat sehingga orang zuhud hanyalah tinggal ceritanya, dan orang yang berperilaku wara’ tidak lain hanyalah dibuat-buat.”  (HR. Abu Nuz’im di dalam kitab Al - Hilyah)
ومنها  ان يكون  الولد  غيضا , المطر قيضا , وتفيض  اللئام  قيضا     
( رواه  الطبرانى عن ابن مسعود رضى الله عنه)
“Keberadaan anak yang terlahirkan hanyalah menjadi penyebab kemarahan/ keberingasan, hujan yang justeru menambah panas, penyebab kepanikan, dan tampak merajalelanya orang – orang  yang berperilaku tercela”.  (HR. Al Thabrani dari Ibnu Mas’ud RA)
لاتقوم الساعة حتى يسود كل قبيلة منا  فقوها , وكان زعيم القوم أرذلهم , وساد  القبيلة  فاسقوهم ( رواه الطبرانى عن عبد الله ابن  مسعود رضى الله عنه ,  والترمذى عن أبى هريرة  رضى الله عنه )   

“Tidaklah akan terjadi hari qiamat sehingga setiap suku bangsa menyimpan dan melindungi orang-orang munafiknya, penghuni suatu kaum tinggallah orang-orang yang bodoh, dan penduduk suku tersebut mengangkat orang-orang munafik sebagai pemimpin mereka” (HR. Al Thabrani dari abdullah bin Mas’ud RA dan juga diriwayatkan oleh Imam Al – Turmudzi dari sahabat Abi Hurairah)
ومنها ان تزخرف  المحارب  وتخرب  القلوب    ( رواه الطبرانى عن ابن مسعود رضى الله عنه)
“Termasuk tanda-tanda segera terjadinya hari Qiamat adalah tempat-tempat ibadahdihiasi sedemikian indah, tetapi hati-hati mereka kosong tanpa jiwa”.  (HR. Al Thabrani dari sahabat Ibnu Mas’ud RA)
ومنها فشوّ التجارة  حتى تعين المرأة زوجها على التجارة ,           وقطع  الأرحام , وفشوالقلم  , وظهور الشهادة بالزور       
( رواه  الإمام  أحمد  والبخارى  عن  ابن  مسعود  رضى  الله  عنه )

“Termasuk tanda-tanda terjadinya hari Qiamat adalah maraknya bisnis dan mengglobalnya perdagangan (perdagangan bebas) sehingga seorang isteri terlibat langsung untuk membantu suaminya untuk mengelola bisnis dan perdagangan, terputusnya tali silaturahim, maraknya media cetak, dan banyaknya persaksian penuh dengan kebohongan”.
 (HR. Imam al – Ahmadi dan al – Bukhari dari sahabat Ibnu Mas’ud RA)
Maraknya media cetak dan banyaknya kegiatan tulis menulis ini menunjukkan semakin sedikitnya orang yang berperan sebagai ulama. Dan karena mudahnya mendapatkan fasilitas ini,  manusia menganggap cukup dengan belajar melalui media cetak, elektronika, dan lewat tulisan itu. Bersamaan dengan itu pula seseorang terstimulir untuk  aktif dalam kegiatan tulis menulis, menyampaikan opini dan tanggapan. Mereka bermaksud untuk segera mendapatkan popularitas dan bisa berkumpul dengan kelompok-kelompok elite.  
Termasuk tanda – tanda  akan datangnya hari qiyamat adalah :
ومنها ان يتّخذ  الأمانة مغنما والزكاة مغرما, ويتعلّم العلم لغير دين 
( رواه الترمذى عن ابى هريرة  رضى الله عنه ) 
“Ketika amanat (kekuasaan) telah dijadikan sebagai kendaraan untuk menjarah kekayaan. Zakat telah dirubah substansinya menjadi pengganti kerugian dan ilmu dipelajari bukan karena tujuan keagamaan”.
(HR. Imam Al – Turmudzi dari Abi Hurairah RA)
ومنها إذا أطاع الرجل إمرأته وعقّ أمّه, وادنى صديقه وأقصى أباه,  وارتفعت الأصوات فىالمساجد  ( رواه الترمذى عن ابى هريرة رضى الله عنه )
Min Asroothi Youmi al – Qiamah, “Ketika seorang suami telah kalah dan mentaati isterinya, anak berani kepada ibunya, ia berusaha selalu dekat dengan teman/ sahabatnya dan menjauhi ayahnya, sementara masjid-masjid hanya berlomba-lomba dalam memperkeras suara”.
(HR. At Turmudzi dari Abu Hurairah RA)
ومنها إذا ظهرت القينات والمعارف وشر بت الخمور, ولعن أخير  هذه الأمّة  أوّلها   ( رواه الترمذى عن أبى هريرة رضى الله عنه  )
“Termasuk juga ketika banyak bermunculan para penyanyi dan selebritis dengan berbagai alat musik, minum khomr menjadi kebanggaan dan generasi yang akhir dari umat ini secara frontal dan berani melaknat generasi sebelumnya”. 
( HR. al-Tirmidzi dari Abi Hurairah Ra.) 
ومنها ان أمام الدجال سنون خدعات, يكذّب فيها الصادق, ويصدّق فيها الكاذب ويخوّن فيها الأمين, ويؤتمن فيها الخائن, ويتكلم فيها الرويبضة, قيل وما الرويبضة ؟ قال الرجل التافه يتكلم فى امر العامة ( رواه إمام الأحمد والزاو عن انس ابن مالك رضى الله عنه )  

“Para pembesar berwatak Dajjal dan berperilaku membujuk, sebagai pembohong. Ia menganggap orang yang benar dianggap bohong, Orang yang bohong ia benarkan. Ia mengklaim orang yang dapat dipercaya sebagai penghianat. Tapi ia justeru mempercayai orang yang berbuat khianat, pada saat orang-orang hina dan rendahan (Al Ruwaibidhoh) memberikan komentar”.  
Ditanyakan kepada Rasulullah, siapakah Al – Ruwaibidhoh  itu, ya........Rasulullah ? Rasul menjawab;  “Ia adalah seorang yang hina dan bodoh tetapi ia ikut campur dalam  mengurus masalah-masalah umat”.
(HR. Al – Imam Ahmad dan Al Bazzar dari Anas bin Malik RA) 

ومنها لاتقوم الساعة  حتى تروا  أمورا عظاما لم تحدّث بها أنفسكم يتفاقم شأنها  فى انفسكم وتسألون هل  نبيّكم ذكر لكم منها ذكرا وحتّى تروا  الجبال تزول عن أماكنها 
( رواه الا مام أحمد والطبرانى عن سمرة  ابن جندب  رضى الله عنه )
“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat itu sehingga mereka menyaksikan banyak persoalan-persoalan besar, tetapi mereka tidak memperbincangkan masalah-masalah besar itu untuk memberi manfaat pada diri mereka sendiri. Keberadaan masalah-masalah itu menjadi tampak gawat dan membahayakan diri mereka. Merekapun lantas bertanya apakah nabi kalian semua telah menuturkan masalah itu secara gamblang. Carut marutnya masalah ini akan kalian saksikan hingga gunung-gunung berpindah dari tempat-tempatnya”. (HR. Imam Ahmad al- Tabrani dari Samroh bin Jundab RA) 
ومنها إذا وسدّ الأمر الى غير أهله  فانتظروا الساعة
 ( رواه البخاري عن أبى هريرة رضى الله عنه )

“Ketika sebuah urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu dan nantikanlah hari Qiamat (kehancurannya)”. 
(HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah RA) 
ومنها لاتقوم الدنيا  حتى يمر الرجل على القبر فيتمرغ عليه ويقول : يا ليتنى كنت مكان صاحب هذا القبر(رواه مسلم عن ابى هريرة )

“Dunia tidak akan sirna sehingga ada seorang yang melintasi kuburan, lantas ia berguling-guling, dan ia pun berkata dengan penuh harap ; seandainya aku menjadi penghuni kuburan itu”.
 (HR. Bukhari dan Abu Hurairah RA) 
ومنها لاتقوم  الساعة  حتى يتفاسد  البهائم  فى الطرق (رواه الطبرانى عن ابن عمر رضى الله عنه)   

“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat sehingga manusia melakukan perzinaan secara fulgar, sebagaimana kawinnya binatang-binatang di tengah jalan”. (HR. Al  - Tabrani  dari Ibnu Umar RA). 
ومنها لاتفنى هذه الأمة حتى يقوم الرجل الى المر أة فيفترشها    
فى الطر يق, فيكون خيارهم يومئذ من يقو :لو وارينا ورأ هذالحائط , 
( رواه ابو يعلى عن أبى هريرة رضى الله عنه )

“Tidaklah umat ini sirna sehingga disaksikan seorang laki-laki datang menjumpai seorang wanita, lantas mereka melakukan perzinaan ditengah jalan. Orang yang terbaik pada kondisi zaman yang sudah sedemikian parah kerusakannya adalah ia yang berkata : Seandainya saja kita dapat menyembunyikan diri /menyingkir  sedikit dibalik tembok, niscaya kita tidak menyaksika adegan panas itu”. (HR. Abu Ya’la dari Abi Hurairah RA) 
ومنها لاتقــوم الســاعة حتـى توجد المرأة نهارا تنكـــح اى تجـــامع وسط الطر يق, لاينكر ذلك أحد, فيكون أمثلهم  يومئذ  الذى يقول : لو نحيتها  عن  الطر يق  قليلا,  فذلك   فيهم  مثل أبى بكر وعمر فيكم ( رواه الحاكم ابو عبد الله  عن أبى هريرة رضى الله عنه)

“Tidaklah hari Qiamat itu akan terjadi sehingga dijumpai seorang wanita yang melakukan perzinaan / hubungan seksual disiang bolong di tengah jalan, sementara itu tidak seorangpun mengingkarinya, keberadaan orang yang hidup pada masa itu dan mau berkata : “Hendaklah menyingkir sedikit saja dari tengah jalan”. Maka ia yang berkata demikian, dialah orang yang  berpredikat sama seperti Abu Bakar dan Umar RA diantara kalian semua”. (HR. Al – Hakim Abu Abdillah dari Abu Hurairah RA) 
Pada sebuah hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Al – Tabrani dari Abi Umamah  beliau menyebutkan : 

ما روى الطبرانى عن ابى أمامة رضى الله عنه : وحتّى تمر المرأة على القوم, فيقوم احدهم فيرفع بذيلها كما يرفع ذنب النعجة, فيقول بعضهم : الا واريتها وراء الحائط, فهو يومئذ  فيهم مثل ابى بكر وعمر فيكم   

Pada sebuah hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Al – Tabrani dari Abi Umamah  beliau menyebutkan :  
“Dan sehingga ditemukan seorang wanita yang lewat ditengah-tengah kaum, kemudian salah seorang diantara mereka berdiri lantas menyingkap rok yang dikenakan wanita tersebut seperti mengangkatnya ekor sapi pedet, kemudian sebagian kaum itu berujar : Seyogyanyalah ia sedikit menyingkir bersama wanita itu dan bersembunyi di belakang tembok. Pada era rusaknya zaman yang sudah sedemikian parah ia yang berani mengatakan hal itu adalah memiliki derajat yang menyamai Sayyidina Abu Bakar dan Umar RA, diantara kalian semua”.

ومنها  لا تقوم الساعة حتى تتناكر القلوب وتختلف الأ قاويل    ويختلف  الأخوان  من الأب  والأم  فى الدين, ( رواه  الديلمى عن حذيفة رضى الله  عنه  )

“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat itu sehingga terjadi perpecahan dan nurani yang saling mengingkari, pendapat yang selalu bertentangan dan bertolak belakang, terpisahnya persaudaraan dari jalur ayah dan ibu di dalam masalah agama”.  (HR. Al Dailami dari sahabat Hudaifah RA) 
ومنها  لا تقوم الساعة  حتى تتخذ  المساجد  قناطر, فلا يسجد لله فيها, وحتى يبعث  الغلام الشيخ بر يدا بين الأفقين, وحتى يبلغ التاجر  بين الأفقين فلا يجد ربحا, ( رواه  الطبرانى عن  ابن مسعود  رضى الله عنه) وهو كناية عن عدم الرغبة فى الصلاة,  وعدم توقير الصغير الكبير, وعدم البركة  فى التجارة لغلبة الكذب والغش على التجار   

“Tidaklah hari Qiamat itu akan tiba sehingga masjid-masjid berubah fungsinya menjadi perkantoran, karena itu masjid tidak lagi digunakan sebagai tempat bersujud kepada Allah Swt, sehingga anak kecil mengutus tukang pos untuk menyampaikan pesannya kepada orang tua yang ada di desa sebelah, sehingga seorang pedagang sampai melalang buana diantara dua kota sehingga ia tak mendapatkan keuntungan”.
 (HR. Tabrani dari Ibnu Mas’ud RA) 

Hadits di atas mengandung arti  kinayah (kiasan) yang menggambarkan tentang tidak  lagi ada  orang yang menyukai dan punya perhatian pada sholatnya, anak kecil tidak lagi  mau memuliakan orang tuanya, dan tidak adanya keberkahan dalam perdagangan karena kentalnya kebohongan dan  ketidakjujuran para pedagang”.

ومنها  يأتى على الناس زمان همتهم بطونهم, وشرفهم متاعهم, وقبلتهم نساؤهم, ودينهم دراهمهم ودنانيرهم, اولئك شر الخليق,
 لا خلاق لهم عند الله   
“Akan datang suatu zaman dimana Himmah / perhatian manusia pada saat itu tertuju pada perut-perut mereka adalah isteri dan wanita-wanita diantara mereka. Agama mereka adalah uang. Merekalah seburuk-buruk ciptaan Allah dan tidaklah ada bagian dan tempat mereka di sisi Allah S”. 
ومنها  لا تذهب الأيام والليالى حتى يخلق القرآن فى صدور أقوام من هذه الأمة   كما يخلق الثياب, ويكون ما سواه  أعجب لهم, ويكون أمرهم طمعا كله, لا يخالطه خوف ان قصّر فى حقّ الله تعالى, منّتْه نفسه الأمانى, وان تجاوز الى مانهى الله عنه قال : أرجو  ان يتجاوز الله عنى.    

“Hari demi hari malam demi malam berlangsung sehingga Al-Qur'an menjadi rusak dan sirna dari dada-dada masyarakat umat ini sebagaimana rusaknya baju, dan apapun selain Al-Qur'an menjadi lebih menakjubkan bagi mereka. perkara atau persoalan yang mereka hadapi adalah tinggal angan-angan saja, tidaklah kecemasan itu meliputi angan-angannya sekalipun ia mengesampingkan dan sembrono dalam menjaga Haqqullah. Hatinya senantiasa diiming-imingi oleh berbagai keinginan penuh lamunan. Bila ia melanggar apa yang menjadi larangan Allah, maka dengan entengnya ia berkata : “Aku berharap Tuhan mengampuniku”
ومنها يدرس الاسلام كما يدرس وشي الثوب, حتى لايدرى ما صيام ولاصلاة ولانسك ولا صدقة, ويبقى طوائف من الناس الشيخ الكبير والعجوز الكبيرة, ويقولون : أدركنا آباءنا على هذه الكلمة لااله الا الله فنحن نقولها .(رواه ابن ماجاه عن حذيفة بن اليمان رضى الله عنه )

“Islam rusak seperti rusaknya hiasan batik baju, pada saat itulah orang tidak lagi mengenal apa itu puasa, apa itu sholat, ibadah haji dan apa itu shodaqoh, yang tersisa hanyalah segolongan generasi manusia-manusia tua renta yang berkata : Kami mendapati orang tua / nenek moyang kami menetapi kalimat  لااله الا الله   maka kamipun mengucapkannya”.
    ومنها لا تقوم الساعة حتى لايقال فى الارض لااله الاالله   
“Tidaklah datang hari Qiamat sehingga lafadz-lafadz لا اله الا الله   tidak lagi dijumpai / didzikirkan di muka bumi ini.
ومنها لا تقوم الساعة حتى يظهر الفحش والبخل, ويخون الأمين, ويؤتمن الخائن, وتهلك الوعول, وتظهر التحوت, قالوا : يارسول الله وما التحوت والوعول ؟, قال : الوعول وجوه الناس وأشرافهم, والتحوت الذين كانوا تحت اقدام الناس . 
( رواه الطبرانى عن ابى هر  يرة رضى الله عنه )
“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat itu, sehingga perbuatan keji dan kebakhilan tampak jelas merajalela, orang yang dapat dipercaya dianggap menyimpang dan justeru orang yang menyimpang dipercaya dan diberi kepercayaan. Orang-orang yang mulia berangsur-angsur tiada dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang rendahan !. para sahabat bertanya Wahai Rasulullah ........... apa makna “Al – Tahutu Wa Al – Wa’ulu” ? Rasulullah menjawab : Al – Wa’ulu adalah para pemimpin dan semulia-mulianya manusia, sedangkan Al – Tahutu adalah mereka yang posisinya rendah dihadapan manusia”. 
(HR. Al Tabrani dari Abu Hurairah RA)
ومنها  لا تقوم الساعة حتى تخر ج  سبعون كذابا, قالت : وما ايتهم ؟, قال : يأتونكم بسنة لم تكونوا عليها, يغيرون بها سنتكم,  فاذا رأيتموهم فاجتنبوهم.    
( رواه البخارى عن ابدالله بن عمرو بن العاص رضى الله عنهما )

“Tidaklah akan terjadi hari Qiamat itu, sehingga keluarnya 70 pembohong. Seorang sahabat nabi berkata : Bagaimana tanda-tanda mereka itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab mereka semua datang kepada kalian dengan membawa “sunnah” akan tetapi mereka tidak melakukannya. Jika kalian semua telah menyaksikan mereka, maka jauhilah mereka “!
(HR. Al Bukhari dari sahabat ‘Amr Bin al-Asy RA)
ومنها اذا ظهر القول, وخزن العمل, وائتلفت الالسن, واختلفت القلوب, وقطع كل ذى رحم رحمه, فعند ذلك لعنهم الله واصمهم  واعمى ابصارهم.    
(رواه الامام أحمد وعبد بن حميد عن سلمان الفارسى رضى الله عنه )

“Termasuk ‘min asrati al sa-ah’ adalah maraknya komentar namun jauh dari implementasi, lisan-lisan mereka membuat satu kesepakatan tetapi hati-hati mereka berselisih, setiap yang memiliki ikatan persaudaraan berusaha untuk di cerai beraikan, ketika kondisinya telah sedemikian, maka Allah menurunkan laknatnya kepada manusia, Allah menulikan telinga-telinga mereka dan membutakan penghianatan mereka”.
(HR. Al–Imam  Ahmad dan ‘Abdun bin Humaid dari sahabat Salma Al – Fansi  RA) 
ومنها اذا الناس اظهروا العلم, وضيعوا العمل, وتحابوابالالسن,  وتباغضوا بالقلـوب, وتقاطـعوا فى الارحام لعنهم الله عند ذلك,   فاصمهم واعمى ابصارهم.( رواه ابن ابى الدنيا عن الحسن رضى الله عنه )
“Ketika manusia telah hanya menampakkan kemampuan intelektualitas mereka dan mengabaikan untuk mengamalkannya. Suara mereka mengikrarkan cinta dan kasih sayang, tetapi hati-hati mereka mengobarkan permusuhan dan pemutusan tali persaudaraan. Pada saat itulah Allah menimpakan laknat kepada mereka, mentulikan mereka dan membutakan mata hati dan penglihatan mereka”.
 (HR. Ibnu Abi Al – Dunya dari Al – Hasan  RA) 

قال البيهقى وغيرهم رحمهم الله تعالى : ا لأمارات منها صغار, وقد مضى اكثرها, ومنها كبار ستأتى .     

“Imam al – Baihaqi dan ulama yang lain berkata : “Tanda-tanda akan datangnya hari Qiamat sebagaimana disebutkan dimuka kesemuanya adalah merupakan tanda-tanda yang kecil, sebagian besar daripadanya telah terjadi dan berlalu”. Dan akan saya tuturkan tanda-tandanya yang agung. Untuk itulah saya (penulis, pen) mengakhiri hadits yang telah disebutkan dimuka, dengan sebuah riwayat Imam Muslim di dalam kitab shohih-nya. 
عن حذيفة ابن أسدالغفارى رضى الله عنه قال : اطلع النبى صلى الله عليه وسلم علينا ونحن نذاكر , فقال : ماتذاكرون ؟,   قالوا : نذاكر الساعة, قال : انها لن تقوم حتى ترون قبلها عشر ايات, فذكر الدخان,  والدجال, والدابة, وطلوع الشمس من مغر بها, ونزول عيس بن مر  يم صلى الله عليه وسلم, ويأجوج ومأجوج,  وثلاثة خسوف,  خسف بالمشرق,  وخسف بالمغرب, وخسف بجز  يرة العرب,  وأخر ذلك  نار   تخر ج   من اليمن تطرد الناس الى محشرهم. 

Dari Hudaifah bin Asid Al – Ghifari RA ia berkata : 
“Suatu ketika nabi Muhammad Saw muncul ditengah-tengah kita, pada saat itu kita sedang berdialog, lantas Rasulullah menyapa : “Apa yang kalian perbincangkan ? Para sahabat berkata ; kami membicarakan tentang hari Qiamat ! Nabi bersabda Hari Qiamat itu tidak akan segera tiba sehingga kalian semua sebelumnya menyaksikan sepuluh tanda-tandanya yakni : 1) Terjadinya mendung, 2) Keluarnya Dajjal, 3) munculnya hayawan melata yang berkeliaran, 4) Munculnya matahari dari Barat, 5) Turunnya nabi Isa bin Maryam AS, 6) Munculnya Ya’juz Ma’juz dan terjadinya tiga gempa bumi secara bersamaan, 7) Gempa dibagian timur, 8) Amblesnya bumi dibagian barat, 9) Tanah longsor di Jazirah Arab, 10) Sebagai akhir dari peristiwa-peristiwa itu keluarlah asap dari tanah Yaman untuk menggiring manusia menuju tempat berkumpul”.
اما  الدخان فقد ذكر العلامة الخازن فى تفسيره فقال : قال حذيفة رضى الله عنه : يارسول الله  ماالدخان ؟, فتلا هذه ا لاية  (يوم تأتي السماء بدخان مبين), يملاء مابين المسرق والمغرب يمكث أربعين يوما وليلة, أما المؤمن فيصيبه منه كهيئة الزُكام, واما الكافر فهو كالسكران, يخر ج   من منخريه وأذنيه ودبره
      
Berkaitan dengan terjadinya mendung Al – ‘Allamah al – Khozin di dalam kitab Tafsirnya beliau mengisahkan; sahabat Hudlaifah RA bertanya : Ya ..... Rasulullah Apakah gerangan mendung itu ? lantas Rasulullah membacakan sebuah ayat : 
يوم تأتى الســـمآء بدخــــان مبـــين    

Mendung menyelimuti seluruh belantara bumi bagian timur maupun barat selama 40 hari 40 malam, pada saat itu, orang yang beriman sepertinya tertimpa influenza sedangkan orang-orang kafir ibarat orang yang mabuk. Asap keluar dari hidungnya dari kedua telinganya hingga duburnyapun mengepulkan asap. 
Adapun keterangan tentang Dajjal, maka dalam kitab shahih muslim kita dapati sebuah Riwayat Hadits.
عن هشام ابن عروة رضى الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ما بين خلق أدم الي قيام الساعة خلق اكبر من الدجال, معناه اكبر فتن                                                   
     Dari sahabat Hisyam bin ’Urwah R.A. dia berkata : Saya mendengar Rasululloh SAW  bersabda : “Sejak diciptakannya Nabi Adam AS. hingga terjadinya hari qiyamat tidaklah ditemukan makhluk yang besar menfitnahnya ketimbang Dajjal”.
Didalam kitab Shohih Bukhori Muslim juga diriwayatkan sebuah hadits :

عن انس رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما من نبى إ لا وقد أنذر أمته ا لأعور الكذاب,  أ لا  انه  أعور, وان ربكم ليس باعور,  مكتوب بين عينية ,  مكتوب بين عينيه   كافر .   
Dari sahabat Anas R.A. ia berkata : Rasululloh SAW bersabda : “Tidaklah luput setiap seorang Nabi senantiasa memperingatkan umatnya untuk berhati-hati / antisipatif terhadap makhluk yang kece matanya dan banyak bohongnya. Ingatlah bahwa Dajjal itu buta sebelah (kece) dan sesungguhnya Tuhan kalian semua bukanlah Dzat yang buta; Diantara kedua belah matanya tertulis lafadz kafir”.
    Imam Al – Baghowi R.A mengisahkan sebuah riwayatnya :
عن أسماء بنت يزيد الانصاريه رضى الله عنها أن من اكبر فتنته انه يأتي الاعرابي فيقول :ارأيت ان أحييت لك اباك, الست تعلم إنى ربك؟, فيقو ل : بلى, فيتمثل له الشيطان نحو ابله  كأحسن ما تكون ضروعا, واعظمه امنمه, ويأتي الرجل قد مات أ خوه ومات ابوه فيقول : ارأيت ان أحييت اخاك و اباك, اليت تعلم انى ربك؟, قيقول : بلى,   فيتمثل له  الشيطان نحو اخيه  و ابيه. 
Dari Asma binti Yazid al-Anshoriyah R.A. Sesungguhnya fitnah yang paling besar muncul dari Dajjal adalah : Suatu ketika Dajjal datang menghadap seorang ‘Aroby, kemudian ia berkata : Tidaklah anda tahu bahwa aku adalah Tuhanmu ? orang Arabi itupun berkata : Iya. Kemudian syaitan merubah wujudnya sama persis seperti keberadaan onta milik A’rabi  baik susunya, maupun besarnya punuk atau punggungnya, kemudian Dajjal mencoba untuk mendatangi seorang A’rabi yang lain, dimana saudara dari ayahnya telah meninggalkan keduanya, lantas Dajjal berkata : Kusampaikan berita kepadamu, jika aku dapat menghidupkan saudaramu dan ayahmu, tidakkah engkau yakin bahwa aku adalah Tuhanmu ? Maka orang itupun berkata, Iyaa…Syaitanpun kemudian menjelmakan dirinya sama persis seperti saudara dan orang tua seorang Arabi tersebut”
وعن المغيرة بن شعبة رضى لله عنه قال : ما سأل احد رسول الله صلى الله عليه وسلم عنالدجال ما سألته , وأنه قال لى :ما يضرك , قلت انهم يقولون : إن معه جبل خبز ونهرماء , قال هو اهون على الله من ذلك . 
Dari sahabat Mughiroh bin Syu’bah R.A. ia berkata : Tidak seorangpun pernah mengajukan sebuah pertanyaan seperti yang saya tanyakan kepada Rasululloh SAW tentang Dajjal. Dan sesungguhnya Rasululloh berkata kepadaku: “Tidakkah mungkin Dajjal dapat memperdayakanmu”, aku berkata : Manusia mengatakan bahwa Dajjal itu memiliki segunung roti dan air sepanjang sungai. Rasul menimpali “Dajjal itu sangat sepele menurut pandangan Alloh atas semuanya itu".
روى الترمذى عن أبى بكر الصديق رضى الله عنه حدثنا رسول الله  صلىالله عليه وسلم الدجال,   يخرج بأرض المشرق يقال لها خرسان ,   يتبعه أقوام كأن وجوههم المجان  المطرقه 
Diriwayatkan dari Imam Al – Turmudzi  R.A. Ia berkata: “Suatu waktu Rasululloh SAW berceritakepdakita tentang Dajjal, bahwa dia keluar dari bumi kulon (sebelah barat) tepatnya muncul dari tanah Khurasan. Dia diikuti oleh sejumlah kaumnya, seolah-olah wajah mereka seperti topeng kepala dari besi yang dipukuli dengan palu”.
وعن انس رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :                       يتبع الدجال من يهود اصبهان سبعون الفا عليهم الطيالسة 

Dari sahabat Anas R.A Ia berkata: Rasululloh SAW bersabda : “Kelompok Yahudi yang mengikuti Dajjal adalah berasal dari tanah Asbihan, jumlah mereka mencapai 70.000, mereka semua memakai jubah”.
Imam Al – Nawawi dan Al – Qodli  ‘Iyad Rahimahullah Ta’ala anhu berkata : Hadits-hadits yang datang dan mengisahkan tentang Dajjal adalah hujjah / argumentasi bagi madzhabu al – Haqqi  didalam keshahihan wujudnya Dajjal. Ia adalah sosok yang diciptakan oleh Allah sebagai pencoba bagi hamba-hambanya, Allah juga memberikan kemampuan kepada Dajjal untuk melakukan  apa saja dari sebagian kekuasaan Tuhan seperti dia dapat menghidupkan makhluk yang mati. Karena ia sengaja membunuhnya sendiri. Ia mampu menciptakan dan menampakkan keindahan dunia, kesuburan buminya surga dan nerakanya, dan gudang-gudang logistiknya ketika ia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka terjadilah hujan, demikian juga ketika ia memerintahkan kepada bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka bumipun menumbuhkannya. Semua kemampuan Dajjal itu terjadi atas qudrat dan iradah Allah sebagai salah satu bentuk fitnah Allah kepada hambanya.
Lalu setelah peristiwa besar Dajjal itu terjadi, lantas Allah mencabut segala kemampuan yang dimiliki oleh Dajjal, sehingga ia tidak lagi dapat mematikan seorangpun juga makhluk yang lainnya, dengan ini pula batallah seluruh perkara dan aktivitas Dajjal. Kemudian Allah mengutus kembali Nabi Isa bin Maryam A.S untuk membunuh Dajjal, sejak itulah Allah kembali mengukuhkan eksistensi orang-orang yang beriman dengan ikatan “Al – Qouli  Al – Tsabit”  inilah keabsahan informasi tentang wujudnya Dajjal yang dipegangi oleh Ahli al – Sunnah, seluruh Muhaditsiin dan para ahli fiqh (fuqoha’) hal ini berbeda dengan pandangan para pengingkar peristiwa besar ini termasuk di dalamnya adalah kelompok / sekte Khawarij, Jahmiah dan sebagian pengikut Mu’tazilah. 
Selanjutnya berkaitan dengan peristiwa munculnya “Al – Daabah” hayawan melata dari bumi, Imam Al – ‘Alamah Al – Khozin di dalam kitab tafsirnya melalui transmisi periwayatan sanat  Al – Tsa’laby dari Hudzaifah bin Al – Yaman RA menyebutkan :

ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم الدابة,  قلت : يا رسول الله ,     من اين تخرج ؟ , قال من أعظم المساجد حرمة على الله فبينما عيسى يطوف بالبيت ومعه المسلمون , اذ تضطرب الارض,  وينشق الصفا مما يلى المسعى ,  وتخرج الدابة من الصفا اول ما يخرج منها , رأسها ملمعة  ذات  وبر  وريش, لن يدركها طالب ولن يفوتها هارب , تسم الناس مؤمناوكافر ا, فأما    المؤمن فتترك وجهه كأنه كوكب دري وتكتب بين عينه كافر.

Suatu ketika rasulullah Saw. menuturkan munculnya Al – Daabah Hayawan melata, saya berkata : Wahai Rasulullah, darimana keluarnya Daabah itu ? Rasul menjawab : “Dia muncul dan keluar dari beberapa masjid kemuliaan Allah Taala. Suatu ketika nabi Isa As. melakukan Thawaf di Baitullah dan bersamanya sejumlah kaum Muslimin, saat itulah terjadi gempa bumi, bukit shofa yang bersebelahan dengan tempat pelaksanaan Sa’i terbelah, bersamaan dengan itu seakan binatang melata muncul dari bukit Shofa yang terbelah itu. Kepala binatang itu mengkilat, ia memiliki bulu-bulu yang halus dan bulu-bulu yang kasar, siapapun yang hendak mengejarnya tidak seorangpun mampu mengejarnya dan tak seorangpun yang mampu menemukannya, sebaliknya orang yang lari, karena ketakutan tidak akan mungkin dapat lepas dari cengkramannya, binatang itu lantas menyengat. Semua manusia baik yang Mu’min maupun yang kafir, bedanya sengatan binatang itu kepada orang mukmin akan membekaskan tanda diwajah orang mukmin itu seolah-olah wajahnya bagaikan bintang gumintang yang mencorong, dan ia menuliskan stempel “Mu’min” diantara kedua matanya. Sedangkan terhadap orang yang kafir binatang itu lantas mematuk jidatnya hingga menggoreskan titik hitam. Dan menuliskan identitas “Kafir” diantara kedua matanya”.

وعن عبد الله بن عمرو رضى الله عنه قال : تخرج الدابة من شعب جياد, فتمس رأسها السحاب, ورجلاها فى الارض  

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar RA beliau berkata “Binatang melata itu keluar dari sela-sela gunung yang terbelah, kemudian segumpalan mega meraih kepalanya, sementara kedua kaki tetap merangkak di bumi”. 
Termasuk tanda Qiamat kubra yang lain adalah munculnya matahari dari arah barat, berkaitan dengain ini di dalam kitab Shohih Bukhari pada “Kitabu Bad’i Al – Kholqi” disebutkan : 

 عن أبى ذر رضى الله عنه قال : قال لى النبى صلى الله عليه وسلم حين غربت الشمس : تدرى أين تذهب ؟, قلت : الله ورسوله أعلم , قال : فانها تذهب حتى تسجد تحت العرش ,  فتستأذن فلا يؤذن لها,  ارجعى من حيث جئت فتطلع من مغربها, فذلك قوله تعالى :
( والشمس تجرى لمستقرّ لها,  ذلك تقدير العزيز  العليم ) 

Dari Abi Dzarrin RA ia berkata : Nabi Muhammad Saw bersabda kepadaku :  “Ketika matahari tenggelam; Tahukah kamu kemana matahari itu berkelana ? Aku menjawab : Allah dan rasul – Nya yang lebih tahu. Rasulillah Saw. lantas menjelaskan : Sesungguhnya matahari itu pergi untuk bersujud di bawah Arsy. Ia meminta izin dan iapun mendapat izin. Kemudian diperintahkan kepadanya kembalilah, darimana asalmu datang, maka muncullah ia dari arah barat”.
Peristiwa itulah yang merupakan interpretasi dari firman Allah Swt. dalam Al - Qur’an  :
    
       والشمس تجرى  لمستقر لها, ذ لك تقدير العزيز  العليم  

“Dan matahari itu beredar pada porosnya, demikianlah ketetapan Tuhan Yang Maha Luhur lagi Maha Mengetahui”,
Di dalam kitab Fathul Al – Bari, Imam Ibnu Hajar menjelaskan : “Patutlah sekiranya apa yang dimaksud dengan makna  “Sujud” pada riwayat di muka adalah sujudnya para Malaikat yang diserahi tugas untuk mengurus matahari atau dapat pula diinterpretasikan dengan sujudnya matahari itu sendiri dengan cara dan bentuk yang sesuai dengan keadaannya, sehingga sujudnya matahari itu kepada Allah merupakannya “kinayah” atau isyarat ketundukan / kekhusuan dan penghambaannya pada saat tersebut”.
Imam Al – Nawawi Rahimahullahu Ta’ala ‘Anhu menjeneralisir bahwa sesungguhnya sejudnya matahari menunjukkan kemampuan Allah Swt untuk membedakan dan memberikan pengetahuan tentang penciptaan Allah terhadap matahari, Wallahu A’lam.
Sedangkan berkaitan dengan Asroti al – Sa’ah al – kubra yang lain yakni turunnya nabi Isa dan keluarnya Ya’juz  ma’juz. Maka dalam kitab Shohih Muslim didapati sebuah keterangan sebagai berikut; yang artinya : 
Diriwayatkan dari Nawas bin Sama’an RA ia berkata : pada sebuah pagi Rasulullah Saw menuturkan sebuah berita tentang Dajjal. Tiba-tiba Rasulullah melirihkan suaranya, dan lantas mengeraskan suaranya kembali, sehingga kita menyangka bahwa seolah-olah Dajjal berada di dalam serumpun pohon kurma. Ketika kami bergegas menuju Rasulullah, beliaupun kemudian tahu kegundahan yang ada dibenak kami, nabi lantas bertanya apa yang kalian risaukan ? kamipun menjawab : Wahai Rasulullah Saw di saat pagi seperti ini engkau menuturkan tentang Dajjal itu keluar, Engkau melirihkan suara dan lantas mengeraskannya sehingga kami menyangka bahwa dajjal berada di serumpunan pohon kurma. Nabi berkata : Bukanlah terhadap dajjal aku menghawatirkan kalian semua, apalagi aku berada di tengah-tengah kalian semua, maka akulah yang ada pada bagian terdepan untuk menghadapinya, tetapi jika ia keluar dan aku tidak sedang berada di tengah-tengah kalian semua, maka secara individual ia harus menghadapinya. Pada saat seperti itu hanya Allahlah yang menjadi tumpuan atas keselamatan kaum Muslimin.
Sesungguhnya Dajjal adalah seorang pemuda yang berambut keriting, kedua matanya seperti anggur yang menjorok keluar, seolah-olah aku mempersamakannya dengan ‘Abdi Al – Azzy bin Qattan. Jika diantara kalian semua ada yang menemuinya. Maka bacakanlah untuknya beberapa ayat pembuka dalam surat Al – Kahfi, ia keluar melalui jalan tembus yang menghubungkan negeri Syam dan Irak, dia membuat kerusakan terhadap apa saja yang ada disamping kanan dan sisi kirinya. Wahai seluruh hamba Allah tetapkanlah pada eksistensi kalian semua.
Selanjutnya kita bertanya : Wahai Rasulullah ? Seberapa lama ia akan tinggal di bumi ? Rasul menjawab sampai empat puluh hari, satu hari ada yang sama dengan setahun, ada yang seperti sebulan, ada yang sama dengan satu jum’at dan sebagian dari harinya yang lain sebagaimana ukuran hari-hari kalian. Kami kembali bertanya : Wahai Rasulillah ! pada sebuah harinya yang seperti setahun, apakah cukup bagi kami untuk melakukan sholat sehari saja ? rasul menjawab : tidak cukup ! lantas ? kalian semua akan memperkirakan waktu-waktu yang ada di dalam hari-harinya sebagai hari-harimu. Kami terus mengejar dengan pertanyaan ; Wahai Rasulillah, seperti apakah kecepatan Dajjal dalam menjelajah bumi ini ? Rasul menjawab : seperti hujan yang dihempaskan oleh angin.
Ia akan mendatangi  kamu dan mengajak kamu untuk mengikutinya. Maka banyak diantara mereka yang mengimaninya dan mengikuti jejak langkahnya. Dajjalpun kemudian memerintahkan kepada langit untuk menurunkan hujan, dan kepada bumi agar menumbuhkan rerumputan yang hijau  dan pepohonan, maka manusiapun menggembalakan ternak-ternaknya hingga pulang petang. Dengan demikian  ternak-ternak mereka menjadi gemuk badannya, lebih montok susu perahannya dan lebih panjang lambungnya. Kemudian suatu ketika akan datang sekelompok kaum untuk menghadap Dajjal dan menolak segala apa yang dikatakan Dajjal, merekapun kemudian pulang, namun keesokan harinya mereka semuanya menemui kelaparan, tidak sedikitpun mereka memiliki sesuatu dari harta bendanya, ketika itu pula Dajjal kembali menelusuri bumi yang telah rusak dan porak poranda, iapun lantas berujar, wahai bumi yang telah rusak keluarkanlah apa saja yang menjadi simpanan   kekayaanmu ! bumi mematuhinya dan segala macam kekayaan yang dikandung bumipun mengikutinya, sebagaimana lebah mengikuti rajanya. Kemudian Dajjal memanggil seorang pemuda yang sangat pemberani dan gagah, tetapi tragis kejadiannya ia bertandang memenggal pemuda itu menjadi dua potongan, dia kemudian melemparkannya ke arah yang bertolak belakang sejauh anak panah yang meluncur dari busurnya. Lantas ia memanggilnya kembali, kedua potongan jasad itu datang dan menyatu kembali, wajahnya tampak berseri-seri dan tertawa terbahak-bahak. Pada saat Dajjal melakukan hal yang sama secara terus menerus, Allah kemudian mengutus nabi Isa Al Masih bin Maryam AS. ia turun tepat di atas menara putih yang terletak di sebelah timur kota Damaskus, dia diapit oleh dua kain berwarna kuning dalam posisi meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap dua Malaikat. 
Setibanya di bumi, nabi Isa Al Masih lantas menundukkan kepalanya tampak dari wajahnya hendak meneteskan sesuatu, ketika ia mengangkat kepalanya, runtuhlah tetesan air bening yang mengkristal bagaikan butiran-butiran intan permata itu. Tidaklah halal bagi orang kafir menghirup nafas yang dihembuskan oleh nabi Isa, padahal hembusan nafas beliau memenuhi cakrawala hingga sejauh pandangan matanya. Nabi Isa Al Masih pun kemudian bertandang mencari Bromo Corah Dajjal, hingga ia menemukannya di suatu tempat yang kemudian disebut sebagai “Babu Luddin” pintu sebuah lembah, lantas ia membunuhnya.
Nabi Isa bin Maryam lalu mendatangi seluruh kaum yang telah dijaga dan diselamatkan oleh Allah Swt dari sergapan Dajjal. Beliau mengusap wajah-wajah mereka sambil menghibur dengan cerita-cerita tentang derajat keluruhan tempat-tempat mereka di surga. Pada saat itulah Allah Swt menurunkan wahyu-Nya kepada nabi Isa AS. 
انى قد اخرجت عُبّادا لى لايدان  لأحد بقتالهم, فحرزعبادى الى الطور.

“Sesungguhnya aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku. Tidak ada satu kekuasaanpun yang aku berikan kepada seorangpun untuk dapat membunuh mereka, maka ungsikanlah hamba-hamba-Ku itu ke Gunung Tursina”.
Setelah semua peristiwa di atas berlangsung, Allah Swt kemudian mengutus Ya’juz  Ma’juz, mereka berjalan dengan cepat menelusuri setiap penjuru bumi. Dia memulai langkah pengembaraannya yang pertama pada sebuah samudera kecil yang ada di daerah “Thobariyyah” mereka lantas meminum air samudera itu hingga habis, mereka tergenangi air. Nabi Musa AS dan seluruh sahabatnya mulai terkepung oleh sekawanan Ya’juz Ma’juz, hingga pada hari itu, kepala seekor sapi menjadi lebih berharga dari pada seratus dinar. Pada saat embargo itulah Nabi Musa dan para sahabatnya memohon kepada Allah Swt agar meraka diselamatkan dari cengkraman Ya’juz Ma’juz, Allah Swt mengabulkan permohonan itu, kemudian Allah mengutus ulat-ulat kecil yang ada dihidung onta untuk menyiksa dan masuk ke leher-leher Ya’juz Ma’juz sehingga mereka terbunuh semuanya.
Sejak itulah nabi Isa dan sahabat-sahabatnya kembali turun ke bumi. Satu hal yang sangat meresahkan mereka adalah bahwa mereka tidak menemukan sejengkalpun tempat di muka bumi ini kecuali dipenuhi oleh lemak yang berceceran dari serat-serat daging Ya’juz Ma’juz sehingga menebarkan bau busuk yang menyesakkan. Karena itulah nabi Isa dengan kaumnya kembali memohon kepada Allah agar Allah menyirnakan bau yang menjijikkan itu, Allah kemudian menolong mereka dengan mengutus burung sebesar onta untuk mengangkut serpihan-serpihan daging Ya’juz Ma’juz  dan membuangnya ke suatu tempat dimana Allah menghendaki, lantas Allah Swt menurunkan hujan untuk kembali menetralisir bumi sehingga bumi menjadi bersih dan bening bagaikan kaca. 
Setelah bumi telah benar-benar menjadi bersih lantas dikatakan kepada bumi. Wahai bumi : “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikanlah keberkahanmu!, maka sejak itulah segolongan manusia mulai memakan dan merasakan kembali buah delima, merekapun lantas menjadikan pelepah-pelepah dan kelopok-kelopak  pepohonan sebagai tempat berteduh. Demikian pula barokah itu nampak pada susu yang dikandung oleh hayawan, bahkan ketika hayawan ternak itu hendak melahirkan pun air susunya tampak melimpah ruah sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia seluruhnya. Pada suatu waktu keberkahan yang kesekian kalinya juga dapat dirasakan oleh segolongan manusia yakni : ketika Allah mengutus angin yang semerbak wangi menghampiri manusia dan menyelinap di ketiak mereka, untuk selanjutnya angin itu dengan kelembutan dan kemesraannya mencabut ruh setiap individu yang beridentitas muslim dan mukmin, hingga yang tersisa di muka bumi adalah mereka manusia-manusia bejat yang selingkuh dan melakukan hubungan seks bebas seperti khimar-khimar yang tak sedikitpun punya rasa malu dan hati nurani, dan kepada mereka semuanyalah ditimpakan dasyatnya hari Qiamat.
Adapun Asyrati Al – Sya’ah (tanda-tanda hari Qiamat) yang lain yakni nyala api yang keluar dari negara Yaman, yakni kobaran api yang akan menggiring manusia. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits. Berkaitan dengan peristiwa ini sejumlah ulama menjelaskan : “Peristiwa penggiringan manusia ini terbagi di dalam empat kategori dalam dua periode. Dua peristiwa yang pertama terjadi di dunia dan yang pertama dimulai dengan penghardikan yang dilakukan oleh nabi Isa AS terhadap kaum Yahudi dari kota Madinah menuju daerah Syam, sedangkan yang kedua adalah penggiringan manusia melalui kobaran api menjelang hari Qiamat untuk menuju Padang Makhsyar, penggiringan ini juga menimpa pada seluruh makhluk hidup sebelum terjadinya tiupan sangkala yang pertama. Manusia yang tergiring itu seluruhnya adalah orang-orang kafir yang masih hidup. Sedangkan kaum Muslimin telah wafat sebelumnya oleh kelembutan tiupan yang mempesonakan mereka. Sedangkan dua peristiwa pada periode yang kedua adalah terjadi di akherat yakni berkumpulnya manusia pada saat  setelah kebangkitan mereka dari alam kuburnya dan bubarnya manusia dari padang makhsyar menuju tempat abadi mereka masing-masing yaitu surga dan atau  neraka.
SEBUAH PASAL
TENTANG CERITA ORANG–ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA DIMANA MEREKA TETAP MAMPU DIAJAK DIALOG, MEREKA TAHU SIAPA YANG MEMANDIKANNYA, SIAPA PULA YANG MEMIKUL DAN MENGKAFANINYA, JUGA SIAPA YANG MEMASUKKANNYA KELIANG KUBUR, DAN JUGA CERITA-CERITA TENTANG BAGAIMANA ORANG YANG TELAH WAFAT ITU KEMBALI MENJALANI KEHIDUPAN BARUNYA SETELAH KEMBALINYA RUH PADA JASAD.


Keterangan mengenai kemampuan orang-orang yang telah wafat bahwa ia dapat mendengar dan berdialog dapatlah dikemukakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al – Bukhari di dalam kitab shohinya dari sahabat Anas bin Malik AS dari nabi Muhammad Saw beliau bersabda : 
العبد اذا وضع فى قبره وتولى وذهب عنه اصحابه حتى أنه يسمع قرع نعالهم اتاه ملكان فيقولان له : ما كنت تقول فى هذا الر جل محمد ؟, فيقول : أشهد أنه عبد الله ورسوله , فيقول انظر الى مقعدك من النار, أبدلك الله به مقعدا من الجنة .   
“Seorang hamba Allah ketika ia disemayamkan di dalam kuburnya dan sahabat-sahabat yang mengantarkan jenazahnya berpaling dan kembali pulang hingga ia masih dapat mendengar suara detak sandal mereka, tiba-tibalah datanglah dua Malaikat menghampirinya. Keduanya lantas bertanya (kepadanya) : Apa komentar anda tentang seorang laki-laki yang bernama “Muhammad”. Dia menjawab : Sesungguhnya beliau adalah hamba Allah yang menjadi utusan-Nya, selanjutnya dikatakan kepadanya : Lihatlah tempat-tempat (tempat tinggalmu) di neraka, Allah telah menggantikan tempat itu dengan suatu tempat yang bernama surga”.  
Rasulillah Saw bersabda : “Seorang yang telah mati itu dapat menyaksikan dan tempat tinggal yang diperuntukkan kepadanya (tempat dineraka dan tempat surga) sekaligus”. Sedangkan orang kafir atau munafiq ia hanya berkata : “saya tidak tahu, bagaimana saya harus mengatakan apa yang dikatakan oleh   manusia ? kemudian dikatakan kepadanya : Tidak mungkin kamu tahu, karena kamu tidak membacanya. Kemudian mereka (orang-orang kafir atau munafik) itu dipukul dengan palu dari besi tepat pada bagian anggota yang ada diantara kedua telinganya dan menjeritlah ia dengan suara keras, sehingga apa saja yang ada disekelilingnya dapat mendengar suara jeritan tersebut kecuali dua makhluk penghuni  bumi yakni manusia dan jin”.
وروى البجارى عن أبى سعيد الحدرى رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : اذا وضعت الجنازة واحتملها  الرجال على أعناقهم, فان كانت صالحة قالت : قدمونى , فان كانت غير صالحة قالت  يا ويلها أين تذهبون بها ؟, يسمع صوتها  كل شىء   الا  الانسان , ولو سمعه صعق .         
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Said Al Khudri RA sesungguhnya rasulullah Saw bersabda : “Ketika jenazah diletakkan dalam keranda dan beberapa orang memikulnya di atas pundak mereka, maka ketika jenazah itu termasuk hamba yang shalih, maka ia akan berkata percepatlah perjalanan kalian semua, tetepi sebaliknya bila jenazah itu bukan hamba yang shalih, maka ia merintih ............. aduh ! sungguh kecelakaan menimpa diriku, kemanakah kalian pergi membawa jenazahku ? Pada saat itu segala apapun yang ada dapat mendengar suara itu kecuali manusia, seandainya manusia dapat mendengar suara itu niscaya ia akan pingsan”.
Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Al – Bukhari    dari sahabat Al – Laist  bin Said, sebagaimana esensi makna verbal hadits di muka. Beliau berkata : “Jenazah itu mengeluh kepada keluarganya : Aduuh ........ bencana menimpa diriku”. Sahabat Al – Lais  dalam riwayatnya melanjutkan : “Seandainya manusia dapat mendengarkan rintihan itu niscaya ia akan pingsan seketika”. 
Sebuah riwayat dikisahkan oleh Imam Al – Tabrani  di dalam kitab Al – Ausad  dari sahabat Abi Said Al – Khudri  RA. Sesungguhnya nabi Muhammad Saw bersabda : “Sesungguhnya mayit mengetahui siapa saja yang memandikannya, orang yang menggendongnya atau memikulnya, mengkafaninya, dan orang yang memasukkannya ke liang kubur”.
 Sahabat Said bin Jubair RA berkata : “Apa saja yang diceritakan oleh orang yang hidup, informasi itu juga akan sampai kepada orang-orang yang telah mati, maka tidaklah seorangpun yang memiliki ikatan tali cinta kasih kepada kerabatnya kecuali berita tentang keadaannya akan sampai juga kepada mayit. Apabila kabar kerabat itu berupa kebaikan, maka mayit ikut merasakan kesenangan dan berbahagia. Namun bila yang terjadi dalam keluarga kerabatnya adalah keprihatinan atau ketidakharmonisan, maka mayit itupun tampak tak ceria dan bersedih hati”.
Imam Ibnu Munabbih RA berkata : “Sesungguhnya Allah Swt membangun sebuah rumah di langit yang ketujuh dan Dia memberinya nama “Al Baidho”. Di rumah itulah ruh-ruh orang Mukmin yang telah meninggal dunia berkumpul, ketika salah seorang Mukmin dari penduduk ahli dunia  wafat, maka arwah-arwah itu menjemputnya dan merekapun lantas menanyakan bagaimana cerita, khabar dan informasi tentang kondisi dunia dan penghuninya sebagaimana pertanyaan yang seringkali terjadi dan dipertanyakan oleh seorang musaffir yang pergi meninggalkan sanak saudaranya dan kerabatnya, ketika ia datang dari bepergiannya”. 
(HR. Abu Nu’aim di dalam kitab Al – Hilyah )
Berkaitan dengan munculnya kehidupan baru dengan kembalinya ruh kepada jasadnya sebuah riwayat datang dari sahabat Al – Barra’ bin Azib RA. berupa hadits panjang yang menerangkan kewajiban-kewajiban yang muncul pada orang-orang yang telah meninggal dunia termasuk sebuah hadits yang menjelaskan tentang kembalinya ruh pada jasad, Imam Al – Barra’ menjelaskan : Pada suatu waktu saya keluar bersama Rasulillah Saw untuk hadir memberikan penghormatan pada jenazahnya seorang laki-laki dari sahabat Anshor, lantas kami mendatangi kuburan, pada saat itu liang kubur belum digali, kemudian Rasulillah Saw duduk, kami bersama sahabat yang lain juga duduk dengan tenang penuh hikmah di sekitar rasulillah seolah ada seekor burung di atas kepala kami hingga tak berani menengadah. Tiba-tiba nabi mengangkat pandangannya, sorot matanya lepas memandangi langit, kemudian beliau menundukkan kembali pandangannya dan menyaksikan bumi, kemudian  nabi berdo’a : “Aku mohon perlindungan-Mu Ya ...... Allah dari siksa alam kubur”. Rasulillah melafadzkan do’a ini berulang-ulang, lantas beliau bersabda : Sesungguhnya seorang hamba yang Mukmin ketika ia memasuki pintu menuju akhirat dan berpisah dengan alam dunia maka datanglah seorang Malaikat menghampirinya. Ia duduk tepat di sisi kepalanya dan berkata : 
أخرجى ايتـها النفــس المطــمئنة الى مغفـــرة من الله ورضــوان
“Wahai Nafsu Al Mutma’innah keluarlah kalian menuju ampunan dari Tuhanmu dan menerima Keridloan-Nya”. Maka ruh itupun keluar, ia mengalir bagai tetesan hujan. Pada saat itulah para Malaikat penghuni surga turun mengerumuni orang yang hendak wafat itu. Dengan wajah-wajah mereka yang putih bersih dan berseri-seri seolah-olah wajah mereka begitu ceria bagaikan  cerah mentari dipagi hari, mereka datang dengan membawa kain-kain kafan dari surga dan minyak-minyak wangi dari pengharum surga, mereka semuanya duduk dengan rapinya, sepanjang sorot mata mereka memandang lepas, dan ketika ruh “Nafsu al – Mutmainnah”  itu dicabut oleh seorang Malaikat, maka para Malaikat itu menyambut ruh tersebut dengan menghimpunnya dalam genggaman dan tidaklah mereka melepaskannya sekejap matapun. Hal ini sebagaimana terungkap dalam firman Allah Swt : 
توفتــــه رســـلنا وهــــم لايفرطـــــون
“Para Malaikat-Ku mewafatkan seorang hamba, dimana sedikitpun mereka tidak  berbuat kasar".
Rasulillah Saw berkata : Maka keluarlah nafas / ruh seorang hamba itu seperti bau semerbaknya minyak wangi, lantas Malaikat membawa naik ruh seorang hamba itu, dan Malaikat itupun tidak datang pada sekumpulan manusia. Pada sebuah riwayat dikisahkan; bahwa ruh yang dibawa oleh Malaikat itu senantiasa melintasi ruh-ruh umat terdahulu dan generasi-generasi yang telah mandahuluinya bagaikan kumpulan belalang yang berhambur diantara langit dan bumi.  Segerombol belalang itu seraya berkata : “Ini ruh siapa ?, maka dikatakanlah bahwa  ruh itu adalah ruh si Fulan dengan menyebut nama terbaiknya hingga para Malaikat itu sampai di pintu langit terendah, maka pintu itupun dibuka mempersilahkan ruh seorang hamba yang Mukmin itu. Para Malaikat penjaga langit itupun lantas mengantarkan ruh itu menembus langit demi langit hingga sampai ke langit ke tujuh. Kemudian Allah berfirman : 
أكتبوا كتابه فى عليين , وما أدراك ما عليون , كتاب مرقوم, يشهده المقربون
“Tuliskanlah (wahai para Malaikat)  catatan amalnya (seorang hamba Mukmin) itu pada buku catatan amal kebaikannya yang tinggi ! Apakah yang anda ketahui tentang apa arti ‘Illiyyun ? Ia adalah kitab catatan amal yang diukir dengan segala keindahan dan yang akan menyaksikannya adalah para Malaikat “Al - Muqarrabin” disalinlah amal kebaikan seorang hamba untuk di bukukan” . 
Kemudian ia berkata : Kembalikanlah ruh seorang Mukmin itu ke bumi. Sesungguhnya Aku, Tuhanmu telah menjanjikan kepada manusia bahwa Aku (Allah Swt) telah menciptakan manusia dari bumi dan kepadanya Aku mengembalikannya, dan daripadanya pula Aku mengeluarkannya di kesempatan yang lain. Maka dikembalikanlah ruh itu ke bumi dan masuk kembali ke jasadnya.
Sekembalinya ruh itu ke jasadnya datang dua Malaikat yang dengan kasar dan lantang menghampirinya dan mendudukkan hamba tersebut. Pada saat itulah dua Malaikat itu melontarkan berbagai pertanyaan kepadanya : 
من ربّك ؟ ومــا دينــك ؟ فيقـــول ربّى الله. ودينى الاسلام
“Siapa Tuhanmu ? dan apa agamamu, ia pun menjawab : Allah adalah Tuhanku dan Islam adalah agamaku". 
Dua Malaikat itu kembali melontarkan pertanyaan : 
فما تقول فى هذالرجل الذى بعث فيكم ؟ فيقول هو رسول الله :    وما يدريك ؟ فيقــول جآءنا بالبيــنات من ربّنا فا منت به وصـدقّت.
"Apa komentarmu kepada seorang laki-laki yang telah diutus kepada kalian semua ? Hamba itu menjawab : Ia adalah Rasulullah ! apa yang kamu ketahui tentang dia ? Hamba Mu’min itu menjawab : Dia datang kepada kita dengan membawa bukti yang jelas dari Tuhanku maka aku mengimaninya dan membenarkannya".
Kisah ini merupakan esensi makna dari sebuah firman Allah : يثبت الله الذين امنــوابالقــول الثابت فى الحيـاة الدنيا وفى الأخرة
“Allah telah mengokohkan (keyakinan) orang-orang yang beriman dengan qoul al - Tsabit  / ucapan yang tetap di dalam kehidupan dunia dan akhirat” 
Rasulullah Saw bersabda : Pada saat itu muncullah sebuah seruan menggema dari langit : Sungguh kebenaran telah ada pada hambaku. Maka ialah yang berhak atas surga, saat itulah surga dibentangkan dan dalam bentuk seorang laki-laki yang cakep wajahnya, wangi baunya dan bajunya indah menawan, seorang laki-laki jelmaan itu lantas berkata ; bersenang senanglah kalian semua atas apa yang telah Allah ‘Azza Wajalla janjikan kepadamu, berbahagialah atas keridlaan dari Allah dan surga-surga yang didalamnya terhimpun beberapa kenikmatan yang ditetapkan. Seorang hamba mukmin itu menimpalinya dengan do’a mudah-mudahan Allah menyenangkan kamu dengan segala kebaikan ! siapakah kalian ? wajahmu hadir kepadaku dengan segala kebaikan ! maka lelaki jelmaan amal itupun menjawab hari ini adalah hari-harimu, dimana engkau menerima balasan yang dijanjikan, dan ini adalah ketentuan sebagaimana yang dijanjikan, aku adalah amalmu yang baik, demi Allah sungguh aku tidak menyaksikan engkau kecuali engkau senantiasa bergegas dengan penuh semangat di dalam taat kepada Allah Swt, dan engkau begitu lamban dan nyaris  takmelakukan maksiatillah, maka mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepada-Mu. Dan hamba Mukmin itupun berdo’a : Wahai Tuhanku datangkanlah hari Qiamat agar aku dapat kembali berkumpul dengan sanak keluarga dan hartaku.
Rasulullah Saw bersabda : Apabila seorang hamba berperilaku dosa dan penyelewengan, maka ketika seorang hamba itu tiba di hari akhirat dan terputus dari kehidupan dunia, datanglah seorang Malaikat, lantas ia duduk di dekat kepalanya dan berkata : “Keluarlah wahai nyawa yang buruk, bersenang-senanglah kalian atas kebencian dan kemarahan Allah. maka turunlah Malaikat itu dengan wajah hitam nan garang dan pakaian kasar yang semerawut, ketika Malaikat itu mencabut ruhnya maka Malaikat yang lainpun berdiri dan mereka tidak menahan ruhnya digenggamannya sekejab matapun”. 
Nabi Muhammad Saw bersabda : Jasad hamba yang berdosa itu menjadi terpisah-pisah lantas malaikat mengeluarkan ruh itu dengan tersendat-sendat hingga uratnya terputus-putus ibarat tusuk-tusuk sate yang besar dan tajam ditancap-tancapkan pada kain basah yang terbuat dari bulu-bulu domba, betapa pedihnya ! Ruh itu sengaja diambil oleh Malaikat sehingga ruh itu keluar dalam keadaan busuk dan betapa menjjikkan baunya, seandainya bau ruh itu ditebarkan di permukaan antara langit dan bumi niscaya penduduk bumi itu berujar Hiiih ........... bau ruh siapa ini ? begitu menjijikkan ! para Malaikatpun menyahut : Ini adalah ruh Fulan seraya menyebutkan nama yang begitu buruk, suara / informasi itupun menyeru ke seantero jagat langit dan bumi. Untuk itu Malaikat tidak bersedia membukakan pintu langit untuk hamba pendosa itu.
Allahpun lantas berfirman :
ردوه الى الارض ,انى وعدتهم اني منها خلقناهم, وفيهانعيدهم,                      ومنها نخرجهم تارة  اخرى.

“Kembalikanlah ruh busuk itu ke bumi wahai para Malaikat, sesungguhnya Aku telah menyampaikan janji-Ku kepada mereka (manusia) bahwa Aku telah menciptakan mereka dari bumi, kepada bumi itu juga aku akan mengembalikan mereka dan nantinya Aku akan mengeluarkan kembali mereka dari bumi itu; maka ruh itupun lantas dicampakka ke bumi”.
Imam Barrok berkata : selepas rasul mengisahkan riwayat ini, beliau lantas membacakan sebuah ayat  : 
ومن يشرك با لله فكأ نما خر من السماء : الأية

“Barang siapa mempersekutukan Allah Swt, maka seolah-olah orang itu terjun terjungkal (ke bumi) dari langit”.
Dan hamba pendosa itu dikembalikan ke bumi beserta ruhnya. Kemudian dua sosok malaikat yang kasar mendatanginya dengan bentakan yang begitu keras, hingga hamba pendosa itu terduduk; dan Malaikat itupun  mulai menanyainya: “Siapa Tuhanmu ? dan apa agamamu !” Hamba itu memberanikan diri menjawabnya dengan tanpa jawaban, sambil gemetar ia berkata: “Aku tidak tahu, tetapi sebenarnya aku pernah mendengar bahwa semua manusia mengucapkan / mengikrarkannya; Malaikat kembali membentaknya: Kok kamu ndak tahu ! pada saat itulah liang kubur menyempit dan menghimpit hamba fajir tersebut hingga tulang-tulang rusuknya “mblesat” bercerai berai”.
Selanjutnya segala amal buruk hamba itu menjelma menjadi seorang laki-laki yang jelek rupanya, baunya busuk dengan pakaian yang begitu kumal, dan iapun menyapanya : “Berbahagialah kamu dengan adzab dan kebencian dari Allah Swt ! dengan segala kebengongan hamba itu berkata : siapa kamu ? kau datang dengan wajah dan pakaian yang begitu menjijikkan. Lelaki itu menjawab ; aku adalah amal keburukanmu ! Demi Allah aku tidak menyaksikan kamu kecuali malas dalam mengerjakan taat kepada Allah Swt dan engkau begitu antusias dan semangat dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt”. 
Pada saat itulah lantas datang kepadanya seorang Malaikat yang tuli dan buta dengan membawa tongkat besi yang begitu besar, seandainya saja sebuah gunung dipukul dengan tongkat itu niscaya ia akan hancur lulur menjadi abu dan remukan-remukan batu. Malaikat itupun bertandang menghajar seorang hamba itu dengan kerasnya sehingga semua makhluk yang dibumi mampu mendengarnya kecuali jin dan manusia. Kemudia ruh dan jasad seorang hamba itu kembali menyatu setelah hancur lebur dan Malaikat kembali menghajarnya. Hadits ini merupakan riwayat yang mashur dan telah diriwayatkan oleh sejumlah para Imam yang menjadi sanadnya, termasuk didalamnya adalah Imam Ahmad.
Imam Al – Haramaini, Al – Faqih Abu Bakar bin al – ‘Araby dan Al-Imam Syaifuddin berkata: “Ulama Salaf al – Shalih sebelum munculnya para penentang konsepsi dasar agama, secara bulat menyepakati atas ketetapan hidupnya kembali orang-orang yang telah meninggal dunia didalam kuburnya, adanya pertanyaan dari dua orang malaikat kepada manusia dan ketetapan tentang wujudnya adzab kubur bagi orang-orang yang berdosa dan orang-orang kafir. Hal ini menjadi keyakinan yang kokoh  dengan landasan firman Allah SWT :
وأحييتنا اثنتين
“Dan aku menjadikan dua kehidupan yang lain (setelah kematian )”
Ayat ini ditafsiri dengan hidupnya kembali orang yang telah mati, karena hendak menghadapi pertanyaan dua malaikat dialam kubur. Dan hidupnya kembali orang yang mati dihari penggiringan mereka kealam makhsyar. Oleh karena itulah dua kehidupan itu  telah Allah Swt. informasikan kepada segenap manusia. Sedangkan kehidupan yang pertama yakni kehidupan didunia, Allah Swt. telah menginformasikannya kepada manusia. Namun paska munculnya rang-orang yang  kontra  terhadap masalah ini beberapa ulama tidak menyepakatinya, tetapi mayoritas dari ulama Salafuna al – Shalih tetap menyepakatinya.
Selanjutnya ketahuilah bahwa apa saja yang terkandung dalam hadist ini yakni keberadaan malikat maut, malaikat Mungkar Nakir, dan malaikat-malaikat yang lain, termasuk juga tempat-tempat yang yang ada dihari qiyamat nanti  adalah merupakan hal-hal yang memiliki kesamaran didalam sifatnya, dan hampir saja tidak ada jalan yang cukup rasional didalam mengungkap sifat-sifat itu secara mendetil,  kalau bukan karena keimanan. Oleh karenaitu seorang hamba sengaja diuji oleh Allah Swt sejauh mana kekokohan keimanannya dalam menyikapi hal-hal yang ghaib.
Ulama Ahli al – Sunnah wa al- Jama’ah menyepakati bahwa orang-orang yang telah meninggal dunia dapat mengambil dua kemanfaatan yang dapat memberikan pertolongan kepadanya yakni; segala bentuk usaha (ibadah) yang ia lakukan sendiri semasa hidupnya. Yang kedua adalah do’a dari orang-orang mukmin, permohonan ampun mereka untuk simayyit, pahalanya shadaqah dan ganjaran ibadah haji yang dilakukan oleh ahli waris untuk mayit. Sedangkan tentang berbagai bentuk ibadah-ibadah yang bersifat badaniah termasuk puasa, shalat, menbaca Al – Qur’an, dan berzikir, dikalangan ulama  Ahli al – Sunnah wa al – Jama’ah sendiri masih dipertentangkan.
Dalam  kontroversi ini ‘Jumhuri al – Salaf al – Shaleh” menyatakan  sampainya pahala – pahala yang bersifat badaniyyah yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk mayit. Tetapi sebagian dari ahli al – bid’ah itu dapatlah kita bantah dengan landasan  Al – Kitab dan Al – Sunnah. Berkaitan dengan istidlal (pencarian dalil) yang menjadi alasan bagi ahli bid’ah yakni Firman Allah Swt :
وان ليس للانسان الا ما سعى
“Dan tidaklah tetap bagi manusia kecuali apa yang ia usahakan”.
Dapat lah kita tolak, bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidaklah menangghkan pengambilan kemanfaatan seseorang atas usaha orang lain. Dan yang Allah Swt nafikan adalah orang lain tidak dapat ikut memiliki hasil usaha (ibadah) dari orang yang selainnya. Adapun apa saja yang diusahakan oleh orang lain adalah menjadi miliknya sendiri sehingga ia memiliki kebebasan , apakah ia menghendaki untuk menyerahkan pahala amal ibadahnya kepada orang lain, atau ia menetapkan pahala dari apa yang ia usahakan itu untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini jelaslah bahwa Allah Swt tidak menyatakan bahwa sesungguhnya  seseorang itu tidak boleh mengambil kemanfaatan  sama sekali kecuali terhadap apa yang ia usahakan sendiri.
    Keterangan ini adalah merupakan akhir dari isi kitab yang saya karang “Wallahu  A’lam bi al – Shawab”, dan hanya kepada Allahlah tempat kembali, dan Dia-lah Dzat Yang memberikan kecukupan kepadaku. Dan sebaik-baiknya Dzat yang diserahi segala urusan. “Laa Haula walaa Quwwata illa billahi al - ‘Aliyyi  al – ‘adzimi” Tidaklah ada kekuatan untuk dapat menghindari segala bentuk kemaksiatan dan kesanggupan dalam memenuhi segala bentuk ketaatan dalam beribadah kecuali hanya dengan pertolongan Allah Swt Dzat yang Maha Luhur dan Maha Agung. 
    Mudah-mudahan shalawat dan salam senantiasa tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. segenap keluarganya dan pengikut-pengikutnya yang tetap berpegang teguh kepada kebaikan hingga hari qiamat nanti.
    “Wa al – Hamdulillahi Rabbi al – ‘Alamiin”    
                    Jember, 7  Syawwal 1426 H


                    Ahmad Zainul Hakim,S.EI
                           Penerjemah
  

Sempatkanlah untuk memberikan salam, kritik, tanggapan, sanggahan, saran, komentar, di kotak komentar. Gratis.....!
EmoticonEmoticon